Rabu, 14/01/2026 12:56 WIB

Harta Karun Emas Ungkap Senjata Besi Tertua di Denmark





Penemuan tim arkeolog di Boeslunde, Pulau Zealand, Denmark, membuka bab baru sejarah teknologi senjata Eropa Utara

Tim arkeolog di Boeslunde, Pulau Zealand, Denmark temukan tombak besi berhiaskan emas yang berusia sekitar 2.800 tahun (Foto: Museum Vestsjælland via Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Penemuan tim arkeolog di Boeslunde, Pulau Zealand, Denmark, membuka bab baru sejarah teknologi senjata Eropa Utara. Dua tombak besi berhiaskan emas yang berusia sekitar 2.800 tahun kini diyakini sebagai senjata besi tertua yang pernah ditemukan di Denmark.

Yang membuat temuan ini menarik, tombak tersebut tidak berdiri sendiri. Lokasi yang sama sebelumnya telah menghasilkan ribuan artefak emas, mulai dari cincin sumpah hingga spiral kecil, yang mengarah pada teknologi baru dan ritual keagamaan kuno saling bertemu di satu tempat.

Penelusuran arkeolog Museum Vestsjælland menemukan bahwa seluruh harta tersebut sengaja disimpan di atas sebuah mata air alami. Air, dalam tradisi Eropa prasejarah, kerap dianggap sakral dan menjadi lokasi persembahan bernilai tinggi.

Saat pendokumentasian lanjutan dilakukan, para peneliti menemukan pecahan besi berkarat dengan lapisan emas tipis. Pembersihan hati-hati mengungkap ujung tombak panjang, disusul temuan tombak kedua tak jauh dari lokasi awal.

Pemeriksaan sinar-X menunjukkan tombak ini awalnya memiliki panjang sekitar 60 sentimeter, dihiasi lembaran dan sisipan emas berbentuk lingkaran. Kombinasi besi dan emas sangat langka pada periode ini, menandakan kepemilikan elite dan keterampilan metalurgi tingkat tinggi.

Penanggalan radiokarbon dilakukan pada sisa pitch birch, getah dari kulit pohon birch, yang menempel pada ujung tombak, kemungkinan berasal dari sarungnya. Hasilnya menempatkan senjata ini pada rentang 900–830 SM, masih dalam Zaman Perunggu Akhir Denmark.

Penggunaan emas pada senjata besi awal menunjukkan bahwa tombak ini bukan sekadar alat tempur. Besi membutuhkan suhu tinggi dan teknik tempa rumit, sementara emas menuntut presisi ekstra, menjadikannya simbol status sekaligus objek ritual.

Praktik mempersembahkan benda berharga ke mata air dan lahan basah dikenal luas di Eropa prasejarah. Lingkungan yang terisolasi dari aktivitas harian memperkuat dugaan bahwa tombak dan emas ini sengaja “dikorbankan”, bukan disembunyikan untuk diambil kembali.

Di sekitar mata air, arkeolog juga menemukan jejak lubang masak yang mengindikasikan jamuan atau pertemuan ritual berskala besar. Temuan ini memperkuat peran Boeslunde sebagai pusat kegiatan religius dan sosial pada masanya.

Pada akhir Zaman Perunggu, Denmark masih didominasi senjata perunggu, sehingga kehadiran besi menandai masuknya teknologi baru. Kemiripan hiasan senjata ini dengan temuan di Eropa Tengah dan Yunani mengisyaratkan jaringan pertukaran ide dan teknologi lintas wilayah.

Meski korosi telah merusak sebagian besar besi, emas yang tidak berkarat justru menjadi petunjuk berharga bagi para peneliti. Tantangan konservasi kini terletak pada menjaga sisa dekorasi agar tidak hilang selama proses penelitian lanjutan.

Penemuan di Boeslunde menunjukkan bahwa inovasi teknologi tidak selalu menggantikan tradisi lama. Sebaliknya, senjata besi pertama Denmark justru dipersembahkan dalam ritual kuno, memperlihatkan bagaimana kekuasaan, kepercayaan, dan teknologi saling terkait sejak ribuan tahun lalu.

Informasi ini disampaikan oleh Museum Vestsjælland dan akan terus dikaji untuk mengungkap asal-usul besi serta jaringan budaya yang membawanya ke Denmark. (*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Harta Karun Emas Senjata Besi Museum Vestsjælland Senjata Denmark




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :