Ilustrasi pengecekan gula darah atau diabetes (Foto: isens usa/Unsplash)
Jakarta, Jurnas.com - Diabetes tidak hanya menggerogoti kesehatan individu, tetapi juga perlahan melemahkan ekonomi global. Penyakit kronis ini kini dialami sekitar satu dari sepuluh orang dewasa di dunia, dengan jumlah penderita yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Sebuah studi global terbaru menunjukkan dampaknya jauh melampaui biaya rumah sakit. Diabetes menekan produktivitas tenaga kerja, mengurangi partisipasi ekonomi, dan membebani keluarga melalui perawatan jangka panjang yang sering kali tidak dibayar.
Penelitian yang mencakup 204 negara selama periode 2020–2050 ini membandingkan kondisi ekonomi dunia saat ini dengan skenario hipotetis tanpa diabetes. Selisih antara keduanya mencerminkan besarnya potensi ekonomi yang hilang akibat penyakit ini.
Hasilnya mencengangkan. Tanpa menghitung perawatan keluarga yang tidak dibayar, kerugian ekonomi global akibat diabetes diperkirakan mencapai sekitar 10 triliun dolar AS, atau setara 0,2 persen PDB dunia setiap tahun. Namun ketika peran perawat informal dimasukkan, angka itu melonjak drastis hingga 152 triliun dolar AS.
Salah satu dampak terbesar datang dari hilangnya tenaga kerja. Diabetes meningkatkan risiko kematian dini, menurunkan kapasitas kerja, dan memperbesar angka absensi akibat komplikasi kesehatan jangka panjang. Dampak ini secara langsung menggerus produktivitas nasional.
Rupiah Diprediksi Menguat pada Akhir Tahun
Beban ekonomi juga berpindah ke ranah keluarga. Banyak anggota keluarga terpaksa mengurangi jam kerja atau keluar dari pasar tenaga kerja untuk merawat penderita diabetes, sehingga kehilangan pendapatan dan kontribusi ekonomi.
Studi tersebut mencatat bahwa perawatan tidak berbayar menyumbang sekitar 85 hingga 90 persen dari total kerugian ekonomi. Tingginya prevalensi diabetes membuat kebutuhan perawatan harian jauh lebih besar dibandingkan angka kematian yang ditimbulkannya.
Di sisi lain, diabetes juga menggeser pola belanja ekonomi. Dana rumah tangga dan negara yang seharusnya dialokasikan untuk investasi produktif justru terserap ke biaya pengobatan dan perawatan kesehatan.
Negara-negara berpendapatan tinggi mencatat beban biaya pengobatan yang lebih besar karena akses layanan kesehatan yang lebih baik. Sebaliknya, negara berpendapatan rendah mengalami kerugian produktivitas yang lebih parah akibat keterlambatan diagnosis dan keterbatasan perawatan.
Pandemi COVID-19 memperburuk situasi. Diabetes meningkatkan risiko infeksi berat, sementara COVID-19 sendiri diketahui dapat memicu munculnya diabetes tipe 2. Akibatnya, kerugian ekonomi terkait diabetes meningkat tajam selama masa pandemi di sejumlah negara besar.
Peneliti menilai pendekatan ekonomi baru yang digunakan dalam studi ini memberikan gambaran lebih realistis dibandingkan metode sebelumnya. Model tersebut memperhitungkan dinamika pasar tenaga kerja, peran perawat keluarga, serta pergeseran belanja ekonomi, bukan sekadar menjumlahkan biaya medis.
Kesimpulannya jelas. Diabetes bukan hanya persoalan medis, melainkan ancaman serius bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Pencegahan melalui gaya hidup sehat, deteksi dini, dan pengelolaan yang tepat menjadi investasi penting, tidak hanya bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga bagi stabilitas dan masa depan ekonomi global. (*)
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine. Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Penyakit Diabetes Ekonomi Global Dolar AS Dampak Diabetes Beban Ekonomi
























