Gambar yang diunggah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di platform X pada 12 Januari 2026 menggambarkan Presiden AS Donald Trump sebagai firaun kuno (Foto: @Khamenei_fa via Antara)
Jakarta, Jurnas.com - Nama Firaun bukan sekadar gelar penguasa Mesir Kuno, tetapi simbol watak kekuasaan yang menindas dan abadi dalam ingatan manusia. Dalam Al-Qur’an, kisah Firaun dihadirkan sebagai cermin tentang bagaimana kekuasaan tanpa moral dapat berubah menjadi sumber kehancuran.
Belakangan ini, nama Firaun kembali menjadi sorotan setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, membandingkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan penguasa tiran Mesir Kuno tersebut. Perbandingan itu muncul di tengah memanasnya ketegangan politik global.
Pada Senin, 12 Januari 2026, Khamenei mengunggah ilustrasi bergaya sarkofagus firaun yang runtuh dengan wajah Trump di platform X. Gambar tersebut disertai pesan singkat “Seperti Firaun”, yang menegaskan keyakinan bahwa penguasa arogan akan bernasib sama seperti tiran-tiran dalam sejarah.
Iran Ingin Bernegosiasi dengan Amerika Serikat
Dalam unggahan berbahasa Persia, Khamenei menyebut nama-nama penguasa yang menurutnya tumbang di puncak kekuasaan, seperti Firaun, Nimrod, Reza Khan, dan Mohammad Reza. Ia menegaskan, “Yang ini pun akan digulingkan,” merujuk pada pemimpin yang dianggapnya zalim dan menindas.
Sindiran itu tidak berdiri sendiri, melainkan muncul setelah sejumlah ancaman dan pernyataan keras Trump terhadap Iran, termasuk isu protes dan instabilitas internal. Simbol Firaun itu nampaknya kembali dipakai sebagai metafora politik untuk menggambarkan kekuasaan yang dianggap melampaui batas.
Sindiran Ayatollah Ali Khamenei kepada Donald Trump dengan simbol “Firaun” bukan sekadar provokasi politik. Pilihan metafora itu merujuk pada karakter klasik kekuasaan tiran yang dikenal luas dalam tradisi agama dan sejarah.
Dalam tradisi Islam, Fir’aun dikenal sebagai pemimpin kebatilan dan simbol kezaliman. Dikutip dari berbagai sumber, Al-Qur’an menyebut namanya sebanyak 74 kali dalam 27 surat, menjadikannya figur antagonis paling dominan dalam narasi keimanan.
Fir’aun digambarkan sebagai sosok yang congkak dan menuhankan diri, sebagaimana ucapannya, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi” dalam Surah An-Nazi’at ayat 24. Kesombongan inilah yang membuatnya menolak kebenaran, bahkan setelah peringatan datang berulang kali.
Ketakutan kehilangan kekuasaan mendorong Fir’aun mengambil kebijakan kejam, termasuk membunuh bayi laki-laki Bani Israil. Ironisnya, Nabi Musa yang hendak dibunuh justru dibesarkan di istana Fir’aun atas kehendak Allah.
Ketika Nabi Musa dan Nabi Harun diutus untuk mengajaknya bertobat dengan cara yang lemah lembut, Fir’aun tetap menolak dan mengklaim dirinya sebagai tuhan. Penolakan ini menegaskan watak kekuasaan yang menutup diri dari kritik dan kebenaran.
Kisah Fir’aun mencapai puncaknya saat ia mengejar Nabi Musa hingga ke Laut Merah. Setelah laut terbelah dan Musa beserta kaumnya selamat, Fir’aun dan pasukannya justru tenggelam, menandai runtuhnya kekuasaan yang dibangun di atas kezaliman.
Hingga kini, istilah “Firaun” kerap dipakai untuk menyebut pemimpin yang otoriter, represif, dan anti-kritik. Dari kitab suci hingga panggung politik global, Firaun tetap hidup sebagai simbol abadi tentang bagaimana kesombongan kekuasaan selalu berujung kehancuran. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Sifat Firaun Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Donald Trump Gambar Firaun
























