Para wisudawan Sekolah Tinggi Ekonomi Indonesia (STEI) Jakarta yang berhasil meraih gelar sarjana dengan yudisium cumlaude. Foto: dok. jurnas
JAKARTA, Jurnas.com - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menegaskan, dalam upaya mengejar visi Indonesia Emas 2045 memerlukan banyak dukungan dari berbagai hal.
Indonesia Emas 2045 juga memerlukan generasi muda yang adaptif, inovatif dengan memiliki daya saing di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek).
Selain itu perlu dukungan dengan relevansi kurikulum dengan kebutuhan masa depan seperti pembelajaran Science (Sains), Technologi (Teknologi), Engineering (Teknik), dan Mathematics (Matematika) yang disingkat STEM.
“Landasan utamanya adalah ekosistem pendidikan dan pengembangan Iptek. Ini perlu didukung dengan relevansi kurikulum dengan kebutuhan masa depan seperti pembelajaran STEM, Data Analisis dan AI,” kata Tauhid Ahmad saat berikan Orasi Ilmiah dihadapan ratusan Wisudawan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STEI) di Jakarta, Senin (12/1/2026).
Tauhid Ahmad nengatakan, Indonesia saat ini dihadapkan pada persoalan akses kuantitas, affordabilitas hingga pemerataan pendidikan dan pembelajaran pada level dasar, menengah dan tinggi. Hal lainnya adalah dukungan kebijakan infrastruktur, sumber daya pendanaan yang memadai.
“Pendanaan tidak hanya kerangka APBN namun juga perlu dukungan swasta dan masyarakat. Meski demikian hal yang paling penting adalah kolaborasi dunia pendidikan tinggi, pemerintah serta dunia usaha dan dunia industri dalam menghadapi tantangan,” ujarnya.
Menurutnya, fenomena ketidakpastian global memunculkan kompetensi-kompetensi yang tinggi karena itu daya saing dan kolaborasi pendidikan tinggi dengan dunia usaha serta pemerintah harus relevan. “Harus mengejar ketertinggalan dan harus siap dengan persaingan perlu pemahaman yang mendalam dengan tren global seperti green economy dan geopolitic di pasar dunia,” jelasnya.
“Termasuk memenuhi standar kompetensi internasional dan sertifikasi global. Bahkan penguasaan bahasa asing menjadi prasyarat dasar. Kolaborasi lintas tidak hanya menyiapkan kurikulum, infrastruktur, penadanaan namun juga jejaring networking baik lokal, nasional, regional dan internasional,” imbuh Tauhid Ahmad.
Dalam penutupnya, Tauhid Ahmad ucapkan selamat dan sukses kepada ratusan mahasiswa yang mendapatkan gelar sarjananya. Ia pun berpesan untuk wisudawan untuk ingat bukan gelar yang membuat berarti tetapi apa yang dilakukan dengan ilmu yang dimiliki. “Serta ingat jangan takut melangkah ke masa depan, karena setiap Langkah kecil hari ini akan menjadi lompatan hari esok,” tutupnya.
Sementara itu dilokasi yang sama, Ketua STEI Ridwan Maronrong menyampaikan bahwa STEI berusaha menciptakan generasi yang unggul untuk menuju Indonesia Emas 2045.
“Di tengah dinamika perubahan global dan transformasi digital yang sangat cepat, STEI menyadari bahwa keberlangsungan dan keunggulan institusi hanya dapat dicapai melalui transformasi yang menyeluruh dan berkelanjutan. Bukan hanya mengadopsi teknologi, tetapi membangun ekosistem akademik yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi masa depan,” ujar Ridwan Maronrong.
Ridwan melanjutkan dengan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul, kurikulum relevan, riset berdampak, dan jejaring global, STIE Indonesia akan mampu meningkatkan kualitas lulusannya. Selain itu, ia mambahkan memperkuat reputasi institusi, dan berkontribusi nyata dalam mengembangkan Pendidikan di Indonesia.
Ketua STEI tersebut menegaskan ke depan akan mendorong pembelajaran adaptif berbasis teknologi. Dengan mengembangkan blended learning & hybrid learning secara konsisten, pembelajaran berbasis case-based learning (CBL) dan project-based learning (PBL) akan terus dikembangkan dan ditingkatkan sesuai kebutuhan industri. Mendorong student-centered learning, serta penguatan kompetensi digital.
“Kurikulum akan terus dikembangkan secara responsif melalui pendekatan OBE (outcome Based Education) dan berdampak secara fleksibel dan terukur dengan integrasi ekonomi digital, data analitik dan kewirausahaan, serta keberlanjutan. Sehingga diharapkan kurikulum akan tetap relevan, mutakhir, dan berdaya saing internasional,” ujarnya.
Pengembangan dosen juga tetap menjadi prioritas utama, melalui peningkatan kualifikasi, kompetensi digital, produktivitas riset, serta kolaborasi nasional dan internasional. Di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat, STEI mengarahkan seluruh kegiatan agar berdampak nyata bagi dunia usaha, UMKM, dan pembangunan masyarakat.
Melalui penguatan publikasi ilmiah dan jejaring global, STEI berkomitmen meningkatkan visibilitas dan reputasi akademik di tingkat nasional dan internasional.
“Dengan transformasi ini ke depan, kami optimistis bahwa STIE Indonesia akan tumbuh sebagai institusi yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global, serta berkontribusi nyata menuju Indonesia Emas 2045,” jelasnya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Tauhid Ahmad STEI Jakarta Indonesia Emas 2045
























