Selasa, 13/01/2026 22:04 WIB

Apa Itu Disfungsi Ereksi? Ini Gejala, Penyebab, dan Solusinya





Disfungsi ereksi (erectile dysfunction/ED) merupakan gangguan seksual yang cukup umum dialami pria

Ilustrasi disfungsi ereksi (foto: Daily Star)

Jakarta, Jurnas.com - Disfungsi ereksi (erectile dysfunction/ED) merupakan gangguan seksual yang cukup umum dialami pria, ditandai dengan ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan ereksi.

Kondisi ini dapat terjadi pada usia berapa pun, tetapi risikonya meningkat seiring bertambahnya usia. Di Amerika Serikat, jumlah penderitanya diperkirakan mencapai sekitar 12 juta orang.

Seseorang dapat dikatakan mengalami disfungsi ereksi apabila tidak mampu mendapatkan ereksi saat ingin berhubungan intim, tidak dapat mempertahankan ereksi hingga hubungan selesai, atau sama sekali tidak pernah mengalami ereksi.

Masalah ini bisa bersifat sementara maupun jangka panjang. Kabar baiknya, sebagian besar kasus ED dapat ditangani secara efektif dengan bantuan medis.

Secara klinis, sebagian dokter menyebut ED apabila keluhan berlangsung setidaknya enam bulan. Tingkat keparahannya pun beragam, mulai dari ereksi yang sangat lemah, hanya mampu sebagian, hingga tidak dapat terjadi sama sekali.

Selain berdampak pada fungsi seksual, kondisi ini juga sering memicu tekanan emosional, kecemasan, depresi, serta masalah dalam hubungan.

Dari sisi fisiologis, ereksi terjadi ketika otot polos di jaringan penis mengendur sehingga aliran darah meningkat dan penis menjadi kaku. Proses ini melibatkan sistem saraf pusat serta rangsangan lokal. Disfungsi ereksi muncul ketika mekanisme tersebut tidak berjalan dengan baik.

Para ahli mengategorikan ED sebagai penyakit multifaktorial. Artinya, penyebabnya bisa berasal dari gangguan sistem pembuluh darah, saraf, maupun hormonal. Faktor psikologis dan gaya hidup juga kerap memperparah kondisi ini.

Sejumlah faktor risiko diketahui berhubungan erat dengan disfungsi ereksi. Di antaranya adalah depresi dan kecemasan, diabetes tipe 2, penyakit jantung dan pembuluh darah, gangguan ginjal, multiple sclerosis, kanker atau efek pengobatannya, serta efek samping obat tertentu seperti antihipertensi, antidepresan, dan obat penenang.

Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, penggunaan narkoba, kelebihan berat badan, kurang aktivitas fisik, serta usia lanjut juga meningkatkan risiko.

Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan menggali riwayat keluhan, kondisi medis, penggunaan obat, dan kebiasaan hidup pasien. Kuesioner seperti International Index of Erectile Function (IIEF) kerap digunakan untuk menilai tingkat keparahan.

Pemeriksaan fisik, evaluasi kesehatan mental, tes laboratorium, hingga pemeriksaan aliran darah dengan USG Doppler dapat dilakukan bila diperlukan.

Tes tambahan seperti pemeriksaan ereksi saat tidur, atau suntikan obat pemicu ereksi di ruang praktik, juga digunakan untuk mengetahui kemampuan fisik penis dalam merespons rangsangan. Semua pemeriksaan ini bertujuan mencari penyebab utama agar terapi lebih tepat sasaran.

Penanganan disfungsi ereksi umumnya dimulai dari perubahan gaya hidup. Pasien dianjurkan berhenti merokok, membatasi alkohol, memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, menghentikan penggunaan narkoba, serta menyesuaikan obat yang dikonsumsi bila diperlukan.

Selain itu, dokter dapat meresepkan obat golongan penghambat fosfodiesterase tipe 5 (PDE-5) yang diminum secara oral, seperti sildenafil, tadalafil, vardenafil, dan avanafil. Pada kasus tertentu yang lebih sulit ditangani, suntikan alprostadil langsung ke penis atau penggunaan alat vakum ereksi dapat menjadi pilihan.

Upaya pencegahan pada dasarnya sejalan dengan pola hidup sehat. Berhenti merokok, mengendalikan tekanan darah, menjaga berat badan ideal, membatasi alkohol, serta mengelola stres dan depresi terbukti menurunkan risiko ED. Penelitian menunjukkan perokok memiliki risiko hingga tiga kali lipat mengalami disfungsi ereksi dibandingkan nonperokok.

Disfungsi ereksi juga sering berjalan bersama penyakit lain, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, kecemasan, dan depresi. Karena itu, ED kerap dianggap sebagai sinyal awal adanya masalah kesehatan yang lebih luas, khususnya pada sistem kardiovaskular.

Hidup dengan disfungsi ereksi memang tidak mudah. Namun, keterbukaan dengan pasangan, berkonsultasi dengan tenaga medis, mengikuti terapi psikologis bila diperlukan, serta mencari dukungan dari komunitas dapat membantu proses pemulihan.

Dengan penanganan yang tepat, sebagian besar penderita mampu kembali menjalani kehidupan seksual yang sehat dan memuaskan.

KEYWORD :

disfungsi ereksi penyebab ED gejala ED pengobatan ED




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :