Selasa, 13/01/2026 16:27 WIB

Mengenal Tanda-Tanda Hiperseksual dan Cara Mengelolanya





Hypersexuality atau perilaku hiperseksual merupakan kondisi ketika seseorang memiliki dorongan seksual yang sangat tinggi dan sulit dikendalikan.

Ilustrasi hiperseksualitas (Foto: Health)

Jakarta, Jurnas.com - Hypersexuality atau perilaku hiperseksual merupakan kondisi ketika seseorang memiliki dorongan seksual yang sangat tinggi dan sulit dikendalikan.

Kondisi ini ditandai dengan pikiran, fantasi, dan perilaku seksual yang muncul secara intens serta berulang, hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Meski belum diakui secara resmi dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5), sejumlah penelitian awal menunjukkan adanya kemiripan antara hiperseksualitas dan pola kecanduan.

Secara umum, sekitar dua persen populasi menunjukkan gejala hiperseksualitas. Angka ini cenderung lebih tinggi pada kelompok tertentu, terutama pada laki-laki yang tercatat dua hingga tiga kali lebih sering dibanding perempuan.

Selain itu, hiperseksualitas juga lebih banyak ditemukan pada individu dengan kondisi kesehatan mental tertentu.

Gejala hiperseksualitas dapat muncul dalam berbagai bentuk. Penderitanya kerap mengalami pikiran atau fantasi seksual yang sangat sering, dorongan seksual yang sulit dialihkan, serta menghabiskan banyak waktu untuk mengakses konten atau imajinasi seksual.

Tidak jarang, perilaku tersebut terus dilakukan meskipun sudah menimbulkan stres, rasa tidak nyaman, atau gangguan dalam kehidupan sosial.

Selain itu, sebagian orang merasa tidak mampu menghentikan kebiasaan seperti masturbasi, menonton pornografi, atau aktivitas seksual lainnya yang dilakukan secara berulang.

Aktivitas ini bisa melibatkan pasangan, interaksi daring, maupun layanan komersial, hingga berujung pada masalah relasi, finansial, atau emosional.

Dalam kehidupan sehari-hari, hiperseksualitas sering memengaruhi berbagai aspek. Hubungan keluarga, pertemanan, hingga relasi romantis dapat terganggu.

Konsentrasi di tempat kerja atau sekolah pun menurun karena fokus yang terus tertuju pada pikiran seksual. Tidak sedikit pula penderita yang mengalami rasa bersalah, malu, dan penurunan kesehatan mental.

Para ahli masih belum sepenuhnya memahami penyebab hiperseksualitas. Namun, sejumlah psikiater menilai kondisi ini memiliki kesamaan dengan gangguan penggunaan zat dan kecanduan perilaku.

Penelitian juga menemukan bahwa hiperseksualitas sering berkaitan dengan depresi, kecemasan, serta dapat menjadi bagian dari episode mania pada gangguan bipolar.

Faktor kepribadian dan pengalaman hidup turut berperan. Individu dengan kecenderungan obsesif, perasaan kesepian, serta kesulitan mengatur emosi dan stres lebih rentan mengalami hiperseksualitas.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa penderita umumnya mengalami perkembangan seksual lebih dini, termasuk mulai masturbasi dan menunjukkan ketertarikan seksual sejak usia lebih muda dibanding rata-rata.

Sejumlah faktor risiko yang diyakini meningkatkan peluang hiperseksualitas antara lain gangguan suasana hati, penyalahgunaan zat, masalah kontrol impuls, gangguan fungsi eksekutif otak, riwayat trauma masa kecil, ADHD pada masa kanak-kanak, hingga masalah keterikatan dalam hubungan intim.

Dalam praktik medis, belum ada definisi tunggal atau kriteria diagnosis resmi untuk hiperseksualitas. Namun, tenaga kesehatan sepakat bahwa perilaku seksual yang menimbulkan tekanan psikologis atau mengganggu fungsi hidup perlu mendapatkan perhatian.

Dokter biasanya menilai tingkat preokupasi terhadap seks serta dampaknya terhadap pekerjaan, hubungan sosial, dan kondisi emosional.

Proses evaluasi umumnya dilakukan melalui wawancara mendalam. Pasien dapat ditanya apakah perilaku seksualnya menghambat tugas penting, memicu masalah kesehatan atau hubungan, menimbulkan rasa bersalah dan malu, hingga menyebabkan kesulitan finansial atau situasi memalukan.

Untuk penanganan, psikoterapi menjadi pendekatan utama. Terapi perilaku kognitif (CBT), terapi pencegahan kekambuhan, serta psikoterapi psikodinamik sering dikombinasikan untuk membantu pasien memahami pola pikir dan emosi yang mendasari perilaku mereka.

Hingga kini, belum ada obat yang secara khusus disetujui FDA untuk hiperseksualitas, namun dokter terkadang meresepkan antidepresan jenis SSRI atau naltrekson, terutama bila terdapat gangguan lain yang menyertainya.

Dampak hiperseksualitas juga terlihat pada kesehatan fisik, terutama meningkatnya risiko infeksi menular seksual jika aktivitas dilakukan tanpa perlindungan.

Dari sisi hubungan, batasan yang tidak jelas dapat menurunkan kepercayaan pasangan. Di bidang pekerjaan dan pendidikan, performa pun bisa menurun akibat sulit fokus. Secara finansial, pengeluaran berlebih untuk konten atau layanan seksual dapat menimbulkan tekanan ekonomi.

Meski demikian, penderita tidak harus menghadapi kondisi ini sendirian. Bantuan profesional dari terapis yang berpengalaman dalam menangani perilaku seksual kompulsif sangat dianjurkan.

Kelompok dukungan seperti Sex Addicts Anonymous maupun komunitas pendamping keluarga juga dapat menjadi ruang berbagi dan pemulihan.

Secara singkat, hiperseksualitas merujuk pada dorongan dan perilaku seksual yang sulit dikendalikan hingga mengganggu kehidupan. Dengan terapi, dukungan sosial, serta penanganan medis yang tepat, banyak orang dapat belajar mengelola dorongan tersebut dan membangun pola hidup yang lebih sehat serta seimbang.

KEYWORD :

hiperseksualitas adalah perilaku hiperseksual dorongan seksual berlebih terapi hypersexuality




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :