Selasa, 13/01/2026 15:37 WIB

Mengenal Somniphobia, Fobia Tidur yang Picu Cemas Berlebihan





Somniphobia dikenal sebagai ketakutan berlebihan terhadap tidur. Kondisi ini termasuk dalam kategori specific phobia, yaitu gangguan kecemasan

Ilustrasi bangun tidur (Foto: Pexels/Andrea Piacquadio)

Jakarta, Jurnas.com - Somniphobia dikenal sebagai ketakutan berlebihan terhadap tidur. Kondisi ini termasuk dalam kategori specific phobia, yaitu gangguan kecemasan yang ditandai rasa takut intens dan tidak rasional terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak berbahaya.

Dikutip dari Health pada Selasa (13/1), pada penderita somniphobia, rasa cemas muncul kuat ketika memikirkan atau menghadapi waktu tidur, dan sulit dikendalikan.

Di Amerika Serikat, sekitar 9,1 persen orang dewasa mengalami specific phobia dalam satu tahun terakhir, dan 12,5 persen pernah mengalaminya sepanjang hidup. Namun, jumlah pasti penderita somniphobia belum diketahui secara spesifik karena kasusnya sering tidak terlaporkan.

Penderita somniphobia umumnya merasa cemas sejak jauh sebelum waktu tidur tiba. Pikiran tentang tidur terus muncul dan memicu kekhawatiran berlebihan. Akibatnya, mereka sering menunda tidur atau mencari distraksi, seperti membiarkan lampu menyala atau menonton televisi hingga larut malam.

Gejala yang dapat muncul meliputi ketegangan otot, tubuh gemetar, keringat berlebihan, sesak napas, jantung berdebar, hingga gangguan pencernaan seperti mual atau diare. Tidak jarang pula muncul serangan panik, mudah marah, sakit kepala, serta kelelahan akibat kurang tidur.

Hingga kini, para ahli belum sepenuhnya memahami penyebab somniphobia. Faktor genetik diduga berperan, namun pengalaman traumatis juga sering dikaitkan sebagai pemicu utama.

Beberapa penelitian menemukan hubungan antara gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan ketakutan terhadap tidur.

Mimpi buruk yang berulang pada penderita PTSD dapat menimbulkan asosiasi negatif terhadap tidur. Selain itu, ketidakmampuan untuk tetap waspada saat tidur serta ketakutan akan kematian atau bahaya lain ketika tidak sadar turut memperkuat kecemasan.

Risiko seseorang mengalami somniphobia meningkat jika memiliki anggota keluarga dengan fobia tertentu. Paparan terhadap respons fobia orang lain juga dapat mengajarkan rasa takut tersebut. Meski demikian, tidak semua penderita memiliki faktor risiko yang jelas.

Untuk diagnosis, tenaga kesehatan mengacu pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Seseorang dikategorikan memiliki fobia spesifik jika rasa takutnya berlebihan, berlangsung minimal enam bulan, mengganggu fungsi sehari-hari, dan tidak disebabkan oleh gangguan mental lain.

Penanganan somniphobia umumnya dilakukan melalui psikoterapi. Terapi paparan atau exposure therapy disebut sebagai standar emas, dengan tingkat keberhasilan hingga 90 persen.

Terapi ini melibatkan paparan bertahap terhadap pemicu ketakutan dalam lingkungan yang aman. Selain itu, terapi perilaku kognitif (CBT), terapi realitas virtual, serta terapi mindfulness juga terbukti membantu mengurangi kecemasan. Obat antidepresan atau anti-kecemasan kadang diberikan sebagai pendamping, namun jarang efektif jika digunakan sendiri.

Somniphobia tidak bisa dicegah sepenuhnya, tetapi dapat dikelola dengan terapi yang tepat. Banyak pasien mulai merasakan perbaikan dalam waktu kurang dari satu tahun.

Bahkan, satu studi menunjukkan separuh pasien merasa lebih baik setelah delapan sesi terapi, dan 75 persen mengalami perbaikan signifikan dalam enam bulan.

Jika tidak ditangani, somniphobia berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Risiko depresi meningkat, frekuensi kunjungan ke layanan kesehatan bertambah, serta muncul berbagai keluhan fisik.

Kurang tidur akibat fobia ini juga dikaitkan dengan penyakit jantung, hipertensi, diabetes, stroke, hingga meningkatnya risiko kecelakaan.

Para ahli menekankan bahwa mencari bantuan profesional adalah langkah penting. Dengan terapi yang tepat dan hubungan yang baik dengan terapis, penderita somniphobia memiliki peluang besar untuk kembali menjalani hidup dengan kualitas tidur dan kesehatan mental yang lebih baik.

KEYWORD :

somniphobia fobia tidur gejala somniphobia terapi fobia tidur gangguan kecemasan tidur




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :