Ilustrasi infeksi menular seksual (Foto: Health)
Jakarta, Jurnas.com - Chlamydia merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Penyakit ini paling sering ditemukan pada individu aktif secara seksual berusia 15–24 tahun. Penularannya terjadi melalui hubungan seksual vaginal, anal, maupun oral tanpa pengaman.
Salah satu alasan chlamydia berbahaya adalah karena sering tidak menimbulkan keluhan. Banyak penderita tidak menyadari dirinya terinfeksi, tetapi tetap dapat menularkan penyakit tersebut kepada pasangan. Jika tidak ditangani, chlamydia berisiko memicu gangguan serius pada organ reproduksi.
Karena kerap tanpa tanda, chlamydia sering disebut sebagai “silent infection”. Data menunjukkan hingga 90 persen perempuan dan sekitar 70 persen laki-laki dengan chlamydia tidak mengalami gejala apa pun.
Empat Gejala Kencing Nanah yang Patut Diwaspadai
Meski demikian, dikutip dari Health pada Selasa (13/1), infeksi tetap dapat menyebabkan perubahan di dalam tubuh yang berdampak jangka panjang pada kesehatan reproduksi.
Bila gejala muncul, biasanya terjadi beberapa minggu setelah paparan. Pada perempuan atau orang dengan serviks, chlamydia pertama kali menyerang leher rahim.
Keluhan yang dapat muncul meliputi rasa terbakar saat buang air kecil, sering ingin berkemih, keputihan tidak biasa, perdarahan setelah berhubungan, serta nyeri saat berhubungan seksual.
Infeksi juga dapat menyebar ke rahim dan saluran tuba, sehingga memicu penyakit radang panggul (pelvic inflammatory disease/PID). Kondisi ini dapat disertai mual, muntah, demam, dan menggigil. Jika tidak diobati, PID berisiko menyebabkan jaringan parut pada saluran tuba, nyeri panggul kronis, kehamilan ektopik, hingga infertilitas.
Pada laki-laki atau orang dengan penis, chlamydia umumnya menyebabkan radang uretra atau uretritis. Gejalanya berupa nyeri saat buang air kecil serta keluarnya cairan bening, putih, atau keabu-abuan dari penis.
Infeksi juga dapat menimbulkan radang epididimis yang memicu pembengkakan dan nyeri pada satu sisi testis, serta radang prostat yang dapat menyebabkan kesulitan berkemih atau nyeri saat ejakulasi.
Chlamydia tidak hanya menyerang organ kelamin, tetapi juga dapat menginfeksi rektum. Penularan bisa terjadi melalui hubungan anal langsung atau penyebaran dari area genital. Infeksi rektum dapat menyebabkan nyeri, keluarnya cairan, hingga perdarahan.
Dalam kasus yang jarang, chlamydia dapat memicu artritis reaktif. Keluhan ini biasanya muncul satu hingga empat minggu setelah infeksi, dengan gejala nyeri dan pembengkakan pada beberapa sendi, terutama lutut, pergelangan kaki, dan kaki. Peradangan pada mata juga dapat menyertai kondisi tersebut.
Pemeriksaan rutin menjadi langkah paling efektif untuk mendeteksi chlamydia sejak dini. Tenaga kesehatan umumnya menyarankan skrining IMS setiap enam bulan bagi individu aktif seksual, terutama yang berusia di bawah 25 tahun.
Tes juga dianjurkan bagi mereka yang memiliki pasangan baru, memiliki lebih dari satu pasangan, jarang menggunakan kondom, atau memiliki pasangan dengan riwayat IMS.
Jika Anda mengalami gejala, merasa berisiko, atau khawatir pernah terpapar, segera konsultasikan dengan tenaga medis. Deteksi dan pengobatan dini tidak hanya melindungi kesehatan pribadi, tetapi juga mencegah penularan lebih luas di masyarakat.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
gejala chlamydia infeksi menular seksual tes IMS rutin penyakit radang panggul

















