Studi Ungkap Pola Makan Tinggi Protein Ini Dapat Melemahkan Infeksi Kolera (Foto: Alomedika)
Jakarta, Jurnas.com - Kolera dikenal sebagai infeksi mematikan yang menyebar cepat melalui air tercemar dan menyebabkan diare hebat hingga dehidrasi fatal jika terlambat ditangani. Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa faktor sederhana seperti pola makan dapat memengaruhi seberapa kuat bakteri kolera berkembang di dalam tubuh.
Penelitian ini menemukan bahwa jenis makanan yang dikonsumsi seseorang dapat menentukan apakah bakteri kolera mampu bertahan dan mendominasi saluran pencernaan. Temuan tersebut membuka peluang baru dalam upaya pencegahan kolera, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan.
Kolera disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae yang harus bersaing dengan mikroba alami usus untuk bertahan hidup. Persaingan ini sangat dipengaruhi oleh asupan nutrisi harian yang membentuk komposisi mikrobiota usus.
Dalam studi ini, para peneliti membandingkan efek diet tinggi lemak, karbohidrat sederhana, dan protein terhadap tingkat infeksi kolera. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang mencolok, di mana makanan tinggi protein secara signifikan menekan kemampuan bakteri untuk menginfeksi usus.
“Skala dampaknya jauh lebih besar dari yang kami perkirakan,” kata Ansel Hsiao, profesor mikrobiologi dari University of California, Riverside. Ia menjelaskan bahwa tingkat kolonisasi kolera bisa berbeda hingga 100 kali lipat hanya berdasarkan jenis diet.
Dua sumber protein terbukti paling efektif, yakni kasein yang banyak ditemukan dalam produk susu, serta gluten gandum. Kedua protein ini secara konsisten melemahkan daya saing bakteri kolera di saluran pencernaan.
Peneliti menemukan bahwa protein tersebut mengganggu sistem senjata mikroskopis bakteri yang dikenal sebagai type 6 secretion system (T6SS). Sistem ini biasanya digunakan kolera untuk membunuh bakteri pesaing dan menguasai ruang di usus.
Ketika T6SS melemah, bakteri kolera kehilangan keunggulan biologisnya dan kesulitan membangun infeksi berat. Pendekatan ini tidak membunuh bakteri secara langsung, tetapi membuatnya kurang agresif dan lebih mudah dikendalikan oleh mikrobiota usus.
Temuan ini dinilai penting karena berbeda dari pendekatan antibiotik yang berisiko memicu resistansi. Menurut Hsiao, strategi berbasis nutrisi tidak menekan bakteri secara ekstrem sehingga kecil kemungkinan memicu evolusi bakteri yang lebih kebal.
Selain itu, intervensi berbasis makanan dinilai lebih murah, mudah diterapkan, dan aman secara regulasi dibandingkan obat-obatan baru. Hal ini menjadi krusial bagi negara berkembang yang masih menghadapi wabah kolera akibat keterbatasan air bersih dan sanitasi.
Meski penelitian ini masih dilakukan pada hewan, para peneliti optimistis hasil serupa dapat ditemukan pada manusia karena prinsip dasar mikrobiota usus relatif serupa. Uji lanjutan dengan mikrobioma manusia kini tengah disiapkan.
Para ilmuwan menegaskan bahwa diet bukan pengganti air bersih, sanitasi, atau perawatan medis. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa nutrisi berpotensi menjadi lapisan perlindungan tambahan dalam menghadapi penyakit menular mematikan.
Studi ini menegaskan bahwa makanan bukan hanya soal memberikan energi dan kesehatan umum, tetapi juga berperan dalam menentukan ketahanan tubuh terhadap infeksi serius. (*)
Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Cell Host & Microbe. Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Pola Makan Makanan Tinggi Protein Infeksi Kolera Pola Diet Vibrio cholerae
























