Ilustrasi sedang tidur (Foto: Pexels/Niels from Slaapwijsheid.nl)
Jakarta, Jurnas.com - Tidur lebih lama di akhir pekan ternyata bukan sekadar kebiasaan malas remaja. Penelitian terbaru menunjukkan, kebiasaan tidur siang atau bangun lebih siang saat Sabtu dan Minggu berkaitan dengan risiko gejala depresi harian yang lebih rendah hingga 41 persen pada remaja dan dewasa muda.
Studi ini menganalisis data survei nasional Amerika Serikat terhadap kelompok usia 16 hingga 24 tahun, dengan fokus pada perbedaan pola tidur hari kerja dan akhir pekan. Penelitian dipimpin psikolog tidur Dr. Melynda Casement dari University of Oregon, yang meneliti kaitan waktu tidur remaja dengan kesehatan mental.
Data diambil dari National Health and Nutrition Examination Survey periode 2021–2023, melibatkan lebih dari 1.000 responden. Para peserta melaporkan jam tidur dan bangun pada hari kerja serta akhir pekan, sehingga peneliti dapat melihat siapa yang “mengejar tidur” dan siapa yang tidak.
Hasilnya menunjukkan, mereka yang mendapatkan tambahan tidur di akhir pekan cenderung melaporkan lebih sedikit perasaan sedih atau depresi setiap hari. Temuan ini penting karena hampir satu dari lima orang berusia 18–25 tahun dilaporkan mengalami depresi berat dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Casement, perubahan ritme biologis saat pubertas membuat remaja secara alami cenderung tidur lebih larut. Masalah muncul ketika sekolah atau pekerjaan menuntut bangun pagi, sehingga waktu tidur pada hari kerja sering kali kurang.
Kondisi ini memicu utang tidur, yaitu akumulasi kurang tidur selama beberapa hari. Tidur lebih lama di akhir pekan dapat membantu membayar sebagian utang tersebut, meski bukan solusi ideal untuk jangka panjang.
Namun, penelitian juga menegaskan bahwa kualitas dan keteraturan tidur hari kerja tetap jauh lebih berpengaruh terhadap kesehatan mental. Pola tidur yang terlalu maju atau terlalu mundur, diukur dari titik tengah antara waktu tidur dan bangun, dikaitkan dengan peningkatan risiko gejala depresi hingga 130 persen.
Di sisi lain, tidur terlalu lama di akhir pekan juga berisiko menimbulkan “social jet lag”, yakni ketidaksinkronan jam biologis antara hari kerja dan akhir pekan. Akibatnya, remaja bisa kesulitan tidur pada Minggu malam dan kembali kurang tidur di awal pekan.
Meski begitu, Casement menilai tidur tambahan di akhir pekan tetap lebih baik daripada tidak sama sekali, terutama bagi remaja yang sulit memenuhi kebutuhan tidur 8–10 jam pada hari sekolah. Tidur pemulihan ini dinilai dapat membantu otak menstabilkan emosi, meski tidak mampu menutupi kurang tidur kronis.
Faktor lain seperti paparan layar di malam hari dan konsumsi kafein juga berperan besar. Cahaya terang dari gawai dapat menunda produksi melatonin, sementara kafein membuat tubuh sulit merasa mengantuk meski sudah lelah.
Peneliti menekankan, temuan ini masih berbasis survei sesaat dan belum membuktikan sebab-akibat. Studi lanjutan dengan pemantauan jangka panjang dan perangkat wearable diperlukan untuk memastikan seberapa besar manfaat tidur akhir pekan bagi kesehatan mental remaja.
Meski demikian, hasil ini memberi pesan praktis bagi keluarga dan sekolah. Jika tidur cukup di hari kerja sulit tercapai, memberi ruang bagi remaja untuk tidur lebih lama di akhir pekan bisa menjadi langkah realistis untuk melindungi kesehatan mental mereka. (*)
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Journal of Affective Disorders. Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Manfaat Tidur Tidur Lebih Lama Akhir Pekan Risiko Depresi


























