Senin, 12/01/2026 00:06 WIB

Apa yang Akan Diunggah Socrates, Jika Sang Filsuf Yunani Kuno Punya Medsos?





Bayangkan Socrates di media sosial, bagaimana filsuf Yunani kuno ini mengomentari demokrasi modern hingga membagikan kebijaksanaannya hari ini

Ilustrasi Socrates kala mencari kebenaran - monumen Socrates (Foto: Anne O`Sullivan/Pexels)

Jakarta, Jurnas.com - Bayangkan Socrates (470–399 SM), filsuf legendaris dari Athena, salah satu filsuf paling berpengaruh dalam sejarah Barat, punya akun media sosial atau medsos.

Apakah ia akan mengunggah kutipan-kutipan bijak, foto debat di agora, atau video menguji logika pengikutnya? Meski ribuan tahun lalu hidupnya jauh dari platform medos seperti TikTok, Instagram atau X (sebelumnya Twitter), pemikiran Socrates menawarkan jawaban yang mengejutkan.

Socrates dikenal dengan metode bertanya atau dialektika yang menantangdi mana ia mendorong orang untuk mempertanyakan keyakinan mereka sendiri. Di medsos, metode ini bisa diterjemahkan sebagai pertanyaan-pertanyaan provokatif, polling tentang kebaikan, atau komentar tajam yang memancing refleksi daripada konten yang terkesan sekadar memancing like atau share.

Daripada selfie atau tren viral, Socrates kemungkinan besar akan membagikan konten yang mendorong introspeksi: “Apa arti kebahagiaan sebenarnya?” atau “Bagaimana kita tahu bahwa kita benar?”. Ada kemungkinan juga ia akan menulis tentang “Apakah mayoritas selalu benar?” atau “Apakah kita memilih pemimpin karena bijak atau hanya karena populer?”

Jika Socrates hidup di era digital, demokrasi mungkin akan menjadi tema berulang di feed-nya. Ia akan mengingatkan bahwa suara terbanyak bukan selalu suara yang benar, dan masyarakat harus mencari pengetahuan dan kebijaksanaan, bukan sekadar mengikuti arus trending.

Dengan gaya yang tetap provokatif tapi edukatif, Socrates di medsos akan menjadi guru digital, memadukan filsafat klasik dengan tantangan sosial modern, khususnya soal bagaimana kita memilih pemimpin dan menilai keputusan kolektif di era informasi cepat.

Selain mengulik politik, Socrates juga mungkin akan unggah konten tentang refleksi diri dan pertanyaan kritis. Filosof Yunani ini percaya bahwa kesadaran diri adalah kunci hidup yang baik, jauh lebih penting daripada popularitas digital. 

Socrates berpendapat bahwa pencarian kebenaran adalah tujuan utama hidup manusia. Ia percaya bahwa kehidupan yang tidak diperiksa atau tidak dihayati adalah kehidupan yang tidak layak dijalani. 

Di era modern, Socrates mungkin juga bisa mengkritik perilaku masyarakat, menyindir keserakahan, atau menantang norma yang dianggap benar begitu saja. Alih-alih viral demi hiburan, unggahannya akan bertujuan membangkitkan debat sehat dan pemikiran kritis.

Bahkan algoritma pun mungkin tidak ramah padanya. Konten yang memaksa orang berpikir tidak selalu mendapat banyak like, tetapi bagi Socrates, dampak pada jiwa manusia jauh lebih penting daripada jumlah follower. Ia akan memprioritaskan kualitas diskusi daripada popularitas instan.

Dengan gaya itu, medsos ala Socrates akan menjadi ruang intelektual yang jarang ditemukan di zaman modern—sebuah “Agora Digital” di mana pertanyaan lebih dihargai daripada jawaban, dan refleksi lebih penting daripada trending topic.

Maka, jika Socrates punya akun medsos, kita mungkin tidak akan menemukan feed penuh meme atau dance challenge. Sebaliknya, akan ada tantangan untuk berpikir, mempertanyakan, dan menemukan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang ia lakukan di Athena ribuan tahun lalu. (*)

KEYWORD :

Pemikiran Socrates Filsuf Yunani Kuno Media Sosial Filsuf Barat




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :