Gunung Malabar (Foto: Via Bandung Bergerak)
Jakarta, Jurnas.com - Gunung Malabar merupakan salah satu gunung berapi tua yang terletak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Gunung ini menjulang di kawasan selatan Bandung dan menjadi bagian dari rangkaian pegunungan Malabar–Puntang.
Nama Malabar sering dikaitkan dengan pengaruh kolonial Belanda. Dalam catatan sejarah, Malabar merujuk pada wilayah pesisir barat daya India yang sejak berabad-abad lalu dikenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dunia.
Pada masa kolonial, Belanda memiliki hubungan dagang yang kuat dengan kawasan tersebut. Nama Malabar diduga kemudian diadopsi dan digunakan di Jawa sebagai simbol wilayah strategis yang subur dan bernilai ekonomi tinggi.
Kemiripan geografis turut memperkuat penamaan tersebut. Gunung Malabar memiliki bentang alam hijau, tanah subur, dan wilayah perkebunan yang luas, menyerupai kawasan Malabar di India yang juga terkenal dengan perbukitan dan perkebunan tropis. Penamaan ini kemungkinan menjadi cara kolonial mengaitkan wilayah Nusantara dengan pusat-pusat ekonomi global yang mereka kuasai.
Peran Gunung Malabar semakin penting pada masa Hindia Belanda ketika pada tahun 1923 dibangun stasiun pemancar Radio Malabar di lerengnya. Stasiun ini menjadi pusat komunikasi jarak jauh antara pemerintah kolonial di Hindia Belanda dan Eropa.
Keberadaannya menegaskan posisi Gunung Malabar sebagai kawasan strategis, baik secara geografis maupun teknologi pada masanya. Hingga kini, sisa-sisa bangunan radio tersebut masih dapat ditemukan di kawasan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Namun, asal usul nama Malabar tidak hanya berhenti pada masa kolonial. Dalam catatan lokal, nama Malabar sudah dikenal jauh sebelumnya. Dikutip dari berbagai sumber, Malabar disebut sebagai salah satu wilayah penting pada masa Kerajaan Tarumanagara.
Bahkan, dalam perjalanan suci abad ke-15, Bujangga Manik, seorang rahib Kerajaan Sunda, telah menyebut kawasan ini sebagai Bukit Malabar, menandakan bahwa nama tersebut telah dikenal oleh masyarakat Sunda jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.
Sejumlah ahli bahasa Sunda juga mengajukan tafsir berbeda. Jonathan Rigg pada abad ke-19 berpendapat bahwa kata Malabar mungkin berasal dari bahasa Sunda kuno, dari kata labar atau lbr-labar yang berarti melebar atau meluber ke segala arah. Penamaan ini diyakini terkait bentuk geomorfologi Gunung Malabar, yang memiliki lereng luas dan menyebar, hasil dari aktivitas vulkanik purba dan aliran lahar pada masa prasejarah.
Secara geologi, Gunung Malabar tergolong gunung api tua yang telah lama tidak menunjukkan aktivitas erupsi. Lereng-lerengnya yang teriris lembah dalam menjadi bukti usia gunung yang sangat tua. Pada masa Plistosen tengah, gunung ini pernah aktif kembali dengan letusan besar yang materialnya mengisi sebagian Cekungan Bandung.
Kini, Gunung Malabar dikenal bukan hanya sebagai destinasi pendakian dan kawasan perkebunan teh, tetapi juga sebagai ikon sejarah dan budaya Jawa Barat. Nama Malabar menjadi saksi pertemuan sejarah lokal, pengaruh kolonial, dan proses alam yang membentuk lanskap Bandung seperti yang dikenal hingga saat ini. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Gunung Malabar Jawa Barat Kabupaten Bandung Pegunungan Malabar–Puntang
























