Minggu, 11/01/2026 21:33 WIB

Studi Iklim Purba Ungkap Ancaman Hujan Ekstrem di Masa Depan





Jejak iklim Bumi jutaan tahun lalu memberi peringatan penting tentang masa depan curah hujan di tengah pemanasan global

Ilustrasi musim hujan (Foto: Pexels/Christiano Sinisterra)

Jakarta, Jurnas.com - Jejak iklim Bumi jutaan tahun lalu memberi peringatan penting tentang masa depan curah hujan di tengah pemanasan global. Studi terbaru menunjukkan bahwa saat suhu ekstrem terjadi, hujan tidak sekadar berubah jumlah, tetapi juga menjadi jauh lebih tidak stabil.

Para ilmuwan menyoroti Periode Paleogen, sekitar 66 juta tahun lalu, ketika suhu Bumi melonjak hingga 18 derajat Celsius lebih panas dibanding era praindustri. Periode ini dinilai relevan sebagai gambaran kemungkinan iklim ekstrem yang bisa dihadapi manusia ke depan.

Karena tidak ada alat ukur hujan di masa purba, peneliti mengandalkan jejak alam seperti batuan, tanah, fosil tumbuhan, dan pola sungai. Dari bentuk daun fosil hingga struktur alur sungai, ilmuwan dapat menafsirkan bagaimana hujan turun dan seberapa ekstrem dampaknya.

Penelitian ini mengungkap pola yang menantang asumsi lama bahwa pemanasan global membuat wilayah basah semakin basah dan wilayah kering semakin kering. Nyatanya, banyak kawasan lintang menengah justru mengalami periode kering lebih panjang meski suhu meningkat.

Kuncinya bukan pada jumlah hujan tahunan, melainkan pada waktunya. Hujan turun dalam ledakan singkat yang sangat lebat, lalu diikuti jeda kering berkepanjangan, menyerupai pola monsun ekstrem.

Wilayah kutub pada masa Paleogen relatif tetap basah, sementara kawasan daratan dan lintang menengah menghadapi kekeringan lebih sering. Pola ini terbukti tidak ramah bagi banyak jenis vegetasi dan berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem.

Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa rata-rata curah hujan tahunan bisa menyesatkan. Model iklim modern dinilai masih kurang menangkap risiko hujan yang makin timpang antara banjir ekstrem dan kekeringan panjang.

Dampaknya bukan hanya pada alam, tetapi juga pada pengelolaan air, risiko banjir, dan ketahanan pangan. Kekeringan yang lebih lama disertai hujan ekstrem dapat memperbesar kerusakan lingkungan dan infrastruktur.

Meski rekonstruksi iklim purba memiliki ketidakpastian, catatan fosil tetap menjadi jendela terbaik untuk memahami dunia yang jauh lebih panas dari hari ini. Pelajaran utamanya jelas, di masa depan, keteraturan hujan bisa jauh lebih krusial daripada sekadar total curah hujan. (*)

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience. Sumber: earth

KEYWORD :

Iklim Bumi Iklim Purba Periode Paleogen Hujan Ekstrem Pemanasan Global Perubahan Iklim




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :