Minggu, 11/01/2026 14:55 WIB

Petugas Haji 2026 Jalani Diklat Intensif Selama Sebulan





Kementerian Haji dan Umrah RI memulai pembinaan intensif bagi calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1447 H/2026 M selama satu bulan

Inspektur Jenderal Kementerian Haji dan Umrah, Dendi Suryadi (Foto: (Ant/Citro Atmoko)

Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Haji dan Umrah RI memulai pembinaan intensif bagi calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1447 H/2026 M melalui pendidikan dan pelatihan selama satu bulan di Asrama Haji Pondok Gede.

Program ini dirancang untuk mencetak petugas yang profesional, berintegritas, serta siap menghadapi tantangan berat di Tanah Suci.

Inspektur Jenderal Kementerian Haji dan Umrah, Dendi Suryadi menjelaskan bahwa pelatihan yang dimulai pada 10 Januari 2026 tersebut memiliki empat target utama.

"Yang pertama, fisiknya (petugas haji) jadi kuat, fisiknya bugar. Karena memang ibadah haji itu kan 90 persen ibadah fisik, sehingga petugas juga harus lebih kuat daripada zaman lalu," ujar Dendi usai memberikan pengarahan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Sabtu malam.

Selain ketahanan fisik, Kemenhaj juga menekankan pembentukan mental yang tangguh agar para petugas siap menjalankan peran sebagai pelayan jamaah.

Di samping itu, peserta diklat diharapkan memiliki kompetensi yang sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.

"Yang terakhir, adanya bonding, adanya persatuan. Seperti yang tadi saya bilang, seperti Persatuan Indonesia, kita kuat kan kalau kita bersatu, kita rapuh kalau kita bercerai," kata Dendi.

Sebagai bagian dari terobosan persiapan haji 2026, Kemenhaj menggandeng Mabes TNI dan Polri untuk menggembleng para calon petugas. Kolaborasi ini dilakukan untuk meningkatkan disiplin, ketahanan fisik, dan mental, mengingat ibadah haji menuntut kesiapan prima.

Sebanyak 179 personel pelatih dari TNI dan Polri diterjunkan bersama pelatih internal Kemenhaj. Pelatihan intensif ini mengadopsi nilai-nilai kedisiplinan militer guna membangun karakter petugas yang tangguh dan solid.

Pada pekan pertama, peserta akan menjalani latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB) sebagai fondasi kedisiplinan.

"PBB itu metode yang bagus untuk melatih orang terbiasa mendengarkan instruksi dan melaksanakan. Siap gerak, diam. Hadap kiri, gerak. Ini melatih kedisiplinan," ujar Dendi.

Selain aspek fisik, pembentukan mental pelayan juga menjadi perhatian utama.

"Mentalnya memang harus mental yang tangguh sebagai pelayan, siap untuk jadi pelayan," kata Dendi.

Kemenhaj juga menegaskan kebijakan khusus terkait pelaksanaan wukuf di Arafah bagi petugas yang belum berhaji. Mereka diperbolehkan menunaikan haji dengan syarat tetap mengenakan atribut dinas demi kelancaran pelayanan jamaah.

"Silakan yang belum berhaji, tapi kemudian pada saat di Arafah jangan sampai melepaskan seragamnya. Dia tidak boleh pakai kain ihram (saja). Berarti kan melanggar sunnah, bukan rukun. Nah itu nanti bisa ditebus dengan puasa atau bayar dam," ujar Dendi.

Kebijakan tersebut dinilai proporsional, mengingat petugas mendapat prioritas berhaji di tengah antrean jamaah reguler yang mencapai 5,4 juta orang.

Memasuki pekan kedua, pelatihan akan difokuskan pada pendalaman tugas dan fungsi di masing-masing bidang, mulai dari layanan bandara, akomodasi, katering, kesehatan, hingga Media Center Haji.

"Nanti didesain oleh para pelatih, sesuai dengan tugas dan fungsinya. Tugas bandara apa rinciannya, akomodasi hotel apa yang harus disiapkan, sampai katering dan wartawan," kata Dendi.

Dengan pola pembinaan baru yang menitikberatkan pada disiplin, kekompakan, dan kompetensi teknis, Kemenhaj optimistis penyelenggaraan haji 2026 akan berjalan lebih tertib dan berkualitas.

"Lebih baik kita bercerai-berai dalam kebenaran daripada bersatu padu dalam kejahatan. Tapi lebih baik lagi bersatu padu dalam kebaikan," ujar Dendi.

KEYWORD :

Kementerian Haji dan Umrah RI Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Arab Saudi Dendi Suryadi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :