Minggu, 11/01/2026 12:27 WIB

Studi Ungkap Mikroplastik di Udara Kota Melonjak, Terhirup Setiap Hari





Sebuah studi terbaru mengungkap fakta mengkhawatirkan, manusia dapat menghirup mikroplastik dalam jumlah sangat tinggi hanya dengan bernapas di udara perkotaan

Ilustrasi mikroplastik (Foto: Pexels/Alfo Medeiros)

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi terbaru mengungkap fakta mengkhawatirkan bahwa manusia dapat menghirup mikroplastik dalam jumlah sangat tinggi hanya dengan bernapas di udara perkotaan. Studi di Xi’an, China, menemukan konsentrasi mikroplastik di udara kota itu melonjak hingga tiga kali lipat setelah pandemi COVID-19.

Penelitian yang dipimpin Fobang Liu dari Xi’an Jiaotong University mengukur mikroplastik dalam PM2.5, partikel polusi halus yang mampu menembus jauh ke paru-paru. Sampel udara dikumpulkan pada musim panas dan dingin, lalu dibandingkan antara periode sebelum dan sesudah pandemi.

Hasilnya menunjukkan perubahan pola sumber pencemar. Sebelum 2020, udara Xi’an mengandung beragam jenis dan warna plastik dari aktivitas sehari-hari, mulai dari tekstil hingga kemasan.

Namun setelah pandemi, serat transparan dan putih justru mendominasi. Pola ini selaras dengan bahan plastik pada masker sekali pakai yang banyak terbuang dan terurai di lingkungan.

Masker bukan satu-satunya penyumbang mikroplastik di udara. Pakaian sintetis, ban kendaraan, dan kemasan plastik juga melepaskan serat halus yang mudah terbawa angin.

Peneliti mencatat pelepasan mikroplastik makin dipercepat oleh ozon dan sinar matahari. Panas dan radiasi ultraviolet membuat plastik rapuh, sehingga lebih mudah terpecah dan terangkat ke udara.

Masalahnya, mikroplastik ini ikut terhirup manusia. Setiap tarikan napas memungkinkan serat plastik masuk ke hidung, tenggorokan, hingga saluran pernapasan bagian dalam.

Pemodelan menunjukkan sebagian partikel bahkan dapat mencapai paru-paru. Mikroplastik yang menempel pada PM2.5 juga berpotensi membawa bahan kimia atau mikroba lain.

Anak-anak dan remaja dinilai lebih rentan karena menghirup udara lebih banyak dibandingkan berat tubuhnya. Meski belum membuktikan penyakit tertentu, temuan ini menjadi sinyal risiko kesehatan yang perlu diawasi.

Paparan mikroplastik tidak berhenti di luar ruangan. Udara luar masuk ke dalam rumah, sementara karpet, sofa, dan pakaian ikut menyumbang serat plastik ke udara dalam ruangan.

Peneliti menilai pengelolaan sampah plastik menjadi kunci pencegahan. Jalanan yang lebih bersih, sistem limbah yang baik, dan pemantauan mikroplastik dalam kualitas udara dinilai penting untuk menekan paparan.

Studi yang dipublikasikan di Journal of Geophysical Research ini menggarisbawahi bahwa mikroplastik bukan hanya ancaman laut. Di kota-kota besar, partikel plastik kini menjadi polusi tak kasatmata yang terhirup setiap hari. (*)

Sumber: Erath

KEYWORD :

Mikroplastik di udara Mikroplastik terhirup Udara kota tercemar Polusi mikroplastik




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :