Minggu, 11/01/2026 10:03 WIB

Ilmuwan Temukan Bakteri yang Menetralkan Antibiotik di Air Limbah





Peneliti menemukan bahwa bakteri tertentu mampu mengurai antibiotik di air dengan cepat, sehingga melindungi seluruh komunitas mikroba dari dampak obat tersebut

Ilustrasi air (foto: Liputan6)

Jakarta, Jurnas.com - Antibiotik yang masuk ke tubuh manusia tidak sepenuhnya hilang setelah dikonsumsi. Sisa obat ini kerap terbawa aliran limbah ke instalasi pengolahan air dan berpotensi merusak keseimbangan mikroba yang menjaga kualitas air.

Studi terbaru menunjukkan ada kabar baik dari dunia mikroorganisme. Peneliti menemukan bahwa bakteri tertentu mampu mengurai antibiotik di air dengan cepat, sehingga melindungi seluruh komunitas mikroba dari dampak obat tersebut.

Riset yang dipimpin ilmuwan Harbin Institute of Technology, China, ini dilakukan menggunakan reaktor air laboratorium yang mensimulasikan sistem pengolahan limbah. Hasilnya, kehadiran bakteri pengurai antibiotik terbukti memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan kerusakan yang ditimbulkan obat, dengan rasio keuntungan sekitar 1,25 kali.

Antibiotik seperti sulfametoksazol, yang sering terdeteksi di air limbah dan sungai, digunakan sebagai model penelitian. Obat ini dikenal dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan mengganggu produksi folat, sehingga berisiko mengacaukan proses biologis pengolahan air.

Dalam percobaan, beberapa komunitas mikroba runtuh akibat paparan antibiotik berulang. Namun, komunitas lain tetap stabil karena memiliki “pemain kunci”, yakni bakteri yang mampu memecah antibiotik sejak awal.

Salah satu bakteri yang disorot adalah Paenarthrobacter strain M5. Mikroba ini menghasilkan enzim yang memutus struktur kimia antibiotik, menghilangkan efek antimikrobanya, sekaligus memanfaatkan hasil pemecahan tersebut sebagai sumber energi.

Keunggulan bakteri ini tidak hanya melindungi dirinya sendiri. Dengan menurunkan kadar antibiotik sejak dini, M5 turut menyelamatkan mikroba lain yang sensitif, menjaga kerja sama biologis yang penting dalam pengolahan air limbah.

Para peneliti menyebut bakteri pengurai ini sebagai “public goods”, karena manfaatnya dirasakan seluruh komunitas. Ketika antibiotik dinetralkan lebih cepat, interaksi antar mikroba tetap terjaga dan sistem pengolahan air dapat berfungsi normal.

Studi ini juga menegaskan bahwa risiko pencemaran antibiotik tidak bisa dinilai dari kadar obat semata. Komposisi komunitas mikroba dan keberadaan bakteri pengurai justru menjadi faktor penentu dampaknya.

Meski menjanjikan, penerapan bakteri pengurai antibiotik di dunia nyata masih memerlukan uji lanjutan. Instalasi pengolahan air menghadapi kondisi jauh lebih kompleks, mulai dari aliran limbah yang berubah-ubah hingga risiko penyebaran gen resistensi antibiotik.

Para peneliti menekankan pentingnya kehati-hatian sebelum menambahkan bakteri tertentu ke sistem alami. Namun, temuan ini membuka peluang baru untuk mengurangi polusi antibiotik dan menekan penyebaran resistensi obat di lingkungan perairan.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Biocontaminant dan menjadi langkah awal menuju strategi biologis yang lebih aman dalam menjaga kualitas air. (*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Bakteri pengurai antibiotik Pencemaran antibiotik Bakteri pembersih air limbah




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :