Ilustrasi Alasan Mengapa Bulan Rajab Disebut Bulan Tuli (Foto: Pexels/Alena Darmel)
Jakarta, Jurnas.com - Bulan Rajab, salah satu bulan suci dalam kalender Islam, memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam dan dikenal dengan sejumlah nama yang sarat makna. Salah satu sebutan yang paling unik adalah Al-‘Asham, yang secara harfiah berarti “tuli”.
Sebutan Al-‘Asham merujuk pada kondisi damai yang menyelimuti bulan Rajab sejak masa Arab pra-Islam. Dikutip dari berbagai sumber, pada periode ini, tidak terdengar suara peperangan, senjata, atau jeritan konflik, sehingga Rajab disebut sebagai bulan yang “tidak mendengar” hiruk-pikuk pertumpahan darah.
Dalam tradisi Jahiliyah, Rajab dihormati sebagai bulan suci yang mewajibkan penghentian total permusuhan. Perang yang sedang berlangsung dihentikan, senjata disimpan, dan dendam ditangguhkan sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian waktu.
Bahkan, penghormatan ini begitu kuat hingga masyarakat Arab berani mendatangi musuh lama, termasuk pihak yang pernah membunuh anggota keluarga mereka. Rajab menjadi ruang jeda sosial untuk menenangkan konflik dan memperbaiki relasi antarsuku.
Nilai penghormatan tersebut kemudian ditegaskan dalam ajaran Islam. Rajab ditetapkan sebagai salah satu dari empat bulan haram (Asyhurul Hurum) bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Taubah ayat 36.
Dalam bulan-bulan suci ini, umat Islam dilarang melakukan kezaliman dan peperangan. Al-Qur’an bahkan menegaskan bahwa berperang di bulan haram merupakan dosa besar, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 217.
Makna Al-‘Asham tidak hanya bersifat historis, tetapi juga mengandung pesan spiritual yang relevan hingga kini. Rajab menjadi simbol penghentian konflik, pengendalian emosi, dan ajakan untuk memperbanyak amal kebaikan.
Sebagai bulan pengantar menuju Sya’ban dan Ramadan, Rajab mengajak umat Islam melakukan introspeksi dan persiapan batin. Kedamaian yang tercermin dalam sebutan bulan tuli menjadi landasan untuk menata niat dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
Dengan memahami makna Al-‘Asham, Rajab tidak sekadar dikenang sebagai bulan suci, tetapi dihidupkan sebagai momentum menghentikan konflik, menumbuhkan kedamaian, dan memperkuat nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Bulan Rajab Bulan Tuli Larangan bulan Rajab Tradisi Damai



















