Sabtu, 10/01/2026 02:58 WIB

Studi Ungkap Sejumlah Pengawet Makanan Terkait Peningkatan Risiko Kanker





Pengawet makanan yang umum ditemukan dalam minuman bersoda, camilan kemasan, hingga daging olahan kembali menjadi sorotan

Ilustrasi jenis-jenis kanker (Foto: Pexels/Tima Miroshnichenko)

Jakarta, Jurnas.com - Pengawet makanan yang umum ditemukan dalam minuman bersoda, camilan kemasan, hingga daging olahan kembali menjadi sorotan. Studi besar terbaru menemukan bahwa konsumsi tinggi beberapa jenis pengawet tertentu berkaitan dengan peningkatan risiko kanker, meski pengawet secara umum tidak menunjukkan hubungan serupa.

Penelitian yang dilakukan tim Sorbonne University ini memantau pola makan lebih dari 105 ribu orang selama rata-rata 7,5 tahun. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal medis bergengsi The BMJ dan didasarkan pada catatan konsumsi makanan rinci hingga tingkat merek produk.

Selama masa pemantauan, tercatat 4.226 kasus kanker, termasuk kanker payudara, prostat, dan kolorektal. Peneliti menganalisis 17 jenis pengawet makanan yang umum digunakan dalam industri pangan modern.

Temuan kunci studi ini menunjukkan bahwa total konsumsi pengawet tidak berkaitan dengan risiko kanker. Namun, ketika ditelusuri lebih spesifik, konsumsi tinggi sejumlah pengawet non-antioksidan justru menunjukkan pola risiko yang meningkat.

Salah satu yang paling menonjol adalah sorbat, khususnya kalium sorbat, yang dikaitkan dengan kenaikan 14 persen risiko kanker secara keseluruhan dan 26 persen risiko kanker payudara. Sementara itu, sulfit berhubungan dengan peningkatan 12 persen risiko kanker total.

Untuk kanker prostat, natrium nitrit tercatat terkait dengan kenaikan risiko hingga 32 persen. Sedangkan kalium nitrat dan asetat juga menunjukkan hubungan dengan peningkatan risiko kanker, terutama kanker payudara.

Pada kelompok pengawet antioksidan, hanya eritrobat dan natrium eritrobat yang memperlihatkan kaitan dengan risiko kanker yang lebih tinggi. Meski demikian, peneliti menekankan bahwa peningkatan risiko ini bersifat relatif dan tergolong moderat.

Para peneliti belum memastikan mekanisme biologis yang mendasari temuan tersebut. Namun, sejumlah pengawet yang teridentifikasi sebelumnya diketahui dapat memengaruhi jalur peradangan dan sistem imun, yang berpotensi menciptakan lingkungan pendukung perkembangan kanker.

Karena bersifat observasional, studi ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Meski begitu, kekuatan data jangka panjang dan pencatatan konsumsi yang detail membuat hasilnya relevan untuk dipertimbangkan lebih lanjut.

Penulis studi mendorong otoritas kesehatan untuk meninjau ulang keamanan beberapa pengawet, dengan mempertimbangkan keseimbangan antara manfaat pengawetan pangan dan potensi risiko kesehatan jangka panjang. Mereka juga menyarankan pembatasan penggunaan pengawet yang tidak esensial.

Bagi konsumen, pesan utamanya tetap konsisten dengan panduan kesehatan saat ini: mengurangi makanan ultra-olahan dan lebih memilih makanan segar atau minim proses. Pendekatan ini dinilai paling realistis sembari menunggu riset lanjutan dan pembaruan regulasi di tingkat global.(*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Pengawet makanan Risiko Kanker Pola Makan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :