Ilustrasi orgasme dalam hubungan intim (Foto: Deon Black/Unsplash)
Jakarta, Jurnas.com - Orgasme tidak selalu berakhir dengan rasa nyaman atau bahagia. Sebuah studi medis terbaru mengungkap bahwa pada sebagian orang, orgasme justru dapat memicu respons emosional dan fisik yang tak terduga, mulai dari menangis, tertawa, sedih mendadak, hingga sakit kepala dan tubuh melemah.
Temuan ini berasal dari survei anonim yang dipimpin tim medis di Chicago, dipublikasikan dalam Journal of Women’s Health. Para peneliti menyebut reaksi ini sebagai peri-orgasmic phenomena, yakni respons yang muncul di sekitar orgasme dan berada di luar pola fisiologis yang umum.
Survei dipimpin Dr. Lauren Streicher, profesor klinis obstetri dan ginekologi di Northwestern University Feinberg School of Medicine. Tujuannya bukan untuk melabeli gangguan, melainkan memberi bahasa medis agar pengalaman ini bisa dibicarakan tanpa stigma.
Survei dimulai dari video singkat di media sosial yang mengundang partisipasi anonim. Dari 3.800 perempuan yang melihat video tersebut antara Agustus 2022 hingga September 2024, sebanyak 86 orang melaporkan gejala dalam survei enam pertanyaan.
Meski jumlahnya kecil, polanya konsisten. Sekitar 69 persen responden mengatakan gejala hanya muncul sesekali, sementara 17 persen mengalaminya setiap orgasme, dan lebih dari separuh melaporkan lebih dari satu jenis respons.
Iran Tutup Selat Hormuz
Respons emosional mendominasi, dialami oleh 88 persen responden. Menangis menjadi yang paling umum, disusul tertawa dan rasa sedih, yang diduga berkaitan dengan lonjakan neurotransmiter di otak saat orgasme.
Gejala fisik juga cukup sering muncul. Sakit kepala dan kelemahan otot menjadi keluhan terbanyak, sementara sebagian kecil melaporkan kesemutan di kaki atau wajah, bahkan mimisan, meski kasus ini tergolong langka.
Menariknya, sebagian besar responden mengatakan gejala hanya muncul saat berhubungan dengan pasangan, bukan saat masturbasi. Hal ini mengisyaratkan bahwa konteks emosional dan sosial turut memengaruhi respons tubuh, bukan sekadar intensitas orgasme.
Secara biologis, orgasme melibatkan koordinasi kompleks antara saraf panggul dan sistem saraf otonom yang mengatur detak jantung, napas, dan aliran darah. Ketidaksinkronan sinyal saraf inilah yang diduga memicu reaksi tak biasa pada sebagian orang.
Peneliti menegaskan bahwa temuan ini tidak menunjukkan kondisi berbahaya pada kebanyakan kasus. Namun, gejala baru yang berat seperti sakit kepala mendadak, pingsan, atau kelemahan ekstrem tetap perlu evaluasi medis.
Dr. Streicher menyebut studi ini penting untuk memberi konteks pada pengalaman yang selama ini jarang dibicarakan. Menurutnya, perempuan perlu tahu bahwa reaksi emosional atau fisik yang aneh saat orgasme bukan berarti mereka sendirian atau “tidak normal”.
Riset ini memperkuat pemahaman bahwa respons seksual manusia sangat beragam. Dalam banyak kasus, orgasme bukan hanya peristiwa fisik, tetapi juga pengalaman neurologis dan emosional yang kompleks. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Reaksi orgasme Peri-orgasmic phenomena Respons orgasme Emosional saat orgasme



















