Permainan tahun 90-an, Tamagotchi, kini mulai dilirik lagi di Jepang (Foto: Straits Times)
Jakarta, Jurnas.com - Mainan virtual Tamagotchi yang sempat menjadi fenomena global pada era 1990-an kembali mencuri perhatian. Mainan berbentuk telur plastik berukuran saku yang menuntut perhatian pemiliknya ini kini digemari generasi muda pencinta gaya retro, sekaligus orang tua yang ingin bernostalgia.
Produsen Tamagotchi, Bandai Namco, mencatat lebih dari 100 juta unit telah terjual di seluruh dunia sejak pertama kali diperkenalkan. Untuk menandai perjalanan panjang tersebut, perusahaan asal Jepang itu menggelar pameran khusus peringatan 30 tahun Tamagotchi yang resmi dibuka di Tokyo pada Rabu (7/1).
Dalam pameran tersebut, Bandai Namco menampilkan evolusi Tamagotchi, mulai dari karakter piksel hitam-putih sederhana hingga perangkat modern dengan layar berwarna dan konektivitas Wi-Fi. Pengunjung dapat melihat bagaimana mainan digital ini beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan ciri khasnya.
Kini, Tamagotchi juga menjelma menjadi aksesori fesyen. Digantungkan pada gantungan kunci atau tas, mainan ini banyak dipakai anak muda, terutama di kawasan trendi seperti Harajuku.
Bandai Namco menyebutkan penjualan merchandise Tamagotchi di luar gim video meningkat hampir tujuh kali lipat dalam kurun waktu lima tahun sejak 2019.
Seorang turis asal Brasil berusia 15 tahun, Rafaela Miranda Freire, mengaku tertarik dengan konsep Tamagotchi meski belum pernah memilikinya.
"Ini benar-benar terasa nostalgia dan lucu. Seperti estetika imut era 2000-an," kata dia dikutip dari Straits Times pada Rabu (7/1). Meski demikian, Freire mengakui bahwa sebagian remaja seusianya, Tamagotchi "tidak terlalu digemari atau dianggap mainan kekanak-kanakan."
Meski demikian, Freire menilai mainan klasik seperti Tamagotchi bisa menjadi alternatif yang sehat di tengah dominasi media sosial.
"Ini bagus. Kamu bisa lepas dari ponsel dan lebih menghargai hal-hal kecil dalam hidup," dia menambahkan.
Popularitas Tamagotchi juga mendapat pengakuan internasional. Pada 2025, peritel asal Inggris Hamleys memasukkan Tamagotchi dalam daftar 100 mainan terbaik sepanjang masa, sejajar dengan Lego dan Rubik’s Cube.
Sebagai hewan peliharaan digital, Tamagotchi menuntut perhatian rutin dari penggunanya, mulai dari memberi makan, mengobati saat sakit, hingga membersihkan kotoran. Karakter virtual tersebut akan tumbuh sesuai dengan cara perawatannya, namun bisa mati jika diabaikan.
Di area pameran, pengunjung memasuki ruang utama melalui instalasi telur raksasa berwarna putih. Di dalamnya terdapat berbagai instalasi interaktif dan ruang sejarah yang memungkinkan pengunjung mencoba puluhan model Tamagotchi yang pernah dirilis.
Bandai Namco mencatat hampir separuh penjualan Tamagotchi berasal dari Jepang. Sementara itu, 33 persen penjualan tercatat di kawasan Amerika, dan hanya sekitar 2 persen di negara-negara Asia-Pasifik lainnya di luar Jepang.
Seorang pengunjung Harajuku berusia 25 tahun, Yumeho Akita, mengenang pengalamannya merawat Tamagotchi saat kecil.
"Saya sangat ingin memilikinya, dan ketika akhirnya punya, saya benar-benar menjaganya dengan penuh perhatian selama berbulan-bulan," ujar Akita.
Tak sedikit orang tua yang kini ingin memperkenalkan mainan tersebut kepada anak-anak mereka. Justin Piasecki, seorang penulis skenario asal Amerika Serikat yang sedang berlibur di Jepang, mengaku baru saja membelikan Tamagotchi untuk dua putrinya yang masih berusia empat dan enam tahun.
"Mereka seperti sudah punya gelar ilmu komputer versi Tamagotchi. Awalnya saya kira harus mengajari mereka, tapi sekarang justru mereka yang mengajari saya," kata Piasecki.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Mainan Tamagotchi Permainan Klasik Game 90an Gen Z Jepang



























