Kamis, 08/01/2026 10:40 WIB

Nvidia Optimistis Pendapatan dari Chip AI Tembus US$500 Miliar





Nvidia menyebut bahwa kontrak besar dari pelanggan utama serta meningkatnya adopsi model AI terbaru mendorong masuknya pesanan di atas perkiraan awal.

Logo perusahaan teknologi Nvidia terlihat di kantor pusatnya di Santa Clara, California 11 Februari 2015. REUTERS/Robert Galbraith

San Francisco, Jurnas.com - Nvidia berupaya meredam kekhawatiran pasar terkait potensi gelembung belanja kecerdasan buatan (AI), dengan menyampaikan bahwa proyeksi pendapatan optimistis yang disampaikan pada Oktober lalu kini justru semakin menguat seiring lonjakan permintaan.

Dalam rangkaian presentasi di ajang CES 2026 di Las Vegas pada 7 Januari, Nvidia menyebut bahwa kontrak besar dari pelanggan utama serta meningkatnya adopsi model AI terbaru mendorong masuknya pesanan di atas perkiraan awal.

Pada Oktober, perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat ini memproyeksikan potensi pendapatan sekitar setengah triliun dolar AS dari chip pusat data, baik yang sudah ada maupun yang akan datang, hingga akhir 2026.

Meski tidak merilis angka terbaru, Nvidia memberi sinyal bahwa pendapatan dalam periode tersebut berpeluang melampaui ambang US$500 miliar (sekitar S$640 miliar).

"Kami seharusnya akan menjalani tahun yang sangat baik," ujar Chief Executive Officer Nvidia, Jensen Huang, dalam konferensi pers. Dia menambahkan, kesepakatan dengan perusahaan seperti penyedia AI Anthropic, serta prospek bisnis yang membaik di China, "akan meningkatkan ekspektasi kami terhadap angka tersebut".

Pandangan Nvidia menjadi kunci untuk menenangkan kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan industri AI. Sebagai pemasok utama chip yang menjadi tulang punggung pengembangan model AI, Nvidia terus menegaskan bahwa belanja pelanggan akan tetap kuat karena manfaat teknologi ini dinilai sangat besar.

Untuk tahun kalender 2026, analis Wall Street saat ini memperkirakan pendapatan Nvidia mencapai US$321,2 miliar, atau tumbuh sekitar 57 persen secara tahunan. Sementara pada 2027, penjualan perusahaan diproyeksikan menembus lebih dari US$400 miliar.

Dalam pernyataan terpisah pada acara JPMorgan Chase, Chief Financial Officer Nvidia, Colette Kress, mengatakan bahwa kebutuhan pemrosesan data korporasi—bukan semata-mata AI—juga menjadi pendorong utama permintaan komputasi generasi berikutnya. Menurut dia, tren tersebut akan mendorong total investasi mencapai skala beberapa triliun dolar pada akhir dekade ini.

"Angka US$500 miliar itu jelas sudah bertambah besar," kata Kress.

Namun, pernyataan optimistis tersebut belum cukup mengangkat sentimen pasar. Saham Nvidia justru turun 0,4 persen dan ditutup di level US$187,28 di New York. Sepanjang 2025, saham perusahaan ini sebenarnya telah melonjak sekitar 39 persen.

Pertanyaan penting lainnya adalah peluang Nvidia untuk kembali menggarap pasar chip AI di China yang tengah berkembang pesat. Bisnis Nvidia di kawasan tersebut sempat terhambat oleh pembatasan ekspor dari Amerika Serikat. Meski demikian, pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Nvidia dapat kembali menjual chip H200 ke pelanggan di China.

“Permintaan pelanggan sangat tinggi, sangat tinggi. Kami sudah mengaktifkan kembali rantai pasok. H200 kini mulai mengalir dalam lini produksi," ujar Huang.

Huang menambahkan bahwa detail akhir perizinan dari pemerintah AS masih dalam tahap finalisasi. Dia juga menyebut tidak mengharapkan pengumuman resmi dari Beijing, karena persetujuan otoritas China akan tercermin melalui izin bagi perusahaan lokal untuk mulai mengajukan pesanan.

KEYWORD :

Chip AI Kecerdasan Buatan Proyeksi Pendapatan Nvidia




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :