Kamis, 08/01/2026 03:36 WIB

Geologi ESDM Jelaskan Fenomena Sinkhole Pascabencana di Sumatera Barat





Geologi ESDM menjelaskan bahwa sinkhole ini termasuk tipe cover-collapse, yakni runtuhan tiba-tiba akibat ambruknya rongga bawah tanah tertutup lapisan tanah

Gambar tanah amblas atau sinkhole yang terbentuk secara mendadak pascabencana di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat (Foto: Geologi ESDM)

Jakarta, Jurnas.com - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap penyebab dan mekanisme munculnya  fenomena tanah amblas atau sinkhole yang terbentuk secara mendadak pascabencana di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat

Sinkhole tersebut terbentuk pada Minggu, 4 Januari 2026, sekitar pukul 11.00 WIB di area persawahan warga. Lubang itu berdiameter sekitar 10 meter dengan kedalaman mencapai 7 meter, berbentuk melingkar vertikal dengan dinding curam dan genangan air di bagian dasar.

Badan Geologi ESDM menjelaskan bahwa sinkhole ini termasuk tipe cover-collapse, yakni runtuhan tiba-tiba akibat ambruknya rongga bawah tanah yang tertutup lapisan tanah alluvial atau endapan gunung api.

"Sinkhole yang terbentuk berupa sumuran vertikal, tanpa tanda subsidence/amblesan yang bersifat gradual. Mekanisme utama (sinkhole itu) adalah pelepasan butir (ravelling) ditambah dengan erosi buluh (piping) yang dipercepat hujan ekstrem," demikian keterangan tertulis Badan Geologi ESDM, Senin (6/1).

Menurut hasil kajian awal, hujan ekstrem berperan besar dalam mempercepat proses pembentukan sinkhole tersebut. Air hujan dan air tanah meresap melalui pori dan rekahan batuan karbonat, melarutkan batugamping di bawah permukaan. Dalam jangka panjang, proses ini membentuk rongga bawah tanah yang tidak terdeteksi karena tertutup endapan tanah dan material vulkanik.

“Ketika rongga bawah tanah melampaui ambang kestabilan geomekanik, langit-langit rongga runtuh secara tiba-tiba dan menyebabkan amblasnya tanah di atasnya,” tulis Badan Geologi. Genangan air di dasar sinkhole menunjukkan adanya hubungan langsung dengan sistem aliran air bawah tanah.

Secara geologi, lapisan tanah di lokasi kejadian tersusun atas lanau pasiran dan pasir lanauan yang bersifat plastis dan relatif labil. Di bawahnya diperkirakan terdapat batugamping Formasi Kuantan yang telah mengalami karstifikasi dan membentuk rongga serta sungai bawah tanah.

Badan Geologi mengingatkan potensi perluasan sinkhole masih terbuka, terutama pada musim hujan. “Pembatasan akses dan aktivitas di sekitar lokasi sinkhole perlu dilakukan karena tanah di sekitarnya masih labil,” bunyi keterangan itu.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda awal bahaya geologi. “Sosialisasi dan edukasi penting dilakukan, terutama jika masyarakat mendengar suara gemuruh bawah tanah atau muncul retakan baru,” lanjut Badan Geologi.

Terkait penanganan, sinkhole yang sudah terbentuk tidak disarankan untuk ditimbun tanpa kajian teknis. “Jika akan dilakukan penimbunan, diperlukan rekayasa geologi teknik yang mempertimbangkan dampak erosi buluh dan kestabilan tanah di masa mendatang,” jelasnya.

Sebagai langkah mitigasi jangka panjang, Badan Geologi merekomendasikan pembuatan zonasi kawasan rawan sinkhole. “Zonasi ini dapat menjadi dasar penataan ruang dan pengurangan risiko bencana di kemudian hari,” tulis Badan Geologi ESDM.

Fenomena ini menunjukkan bahwa wilayah karst menyimpan risiko geologi tersembunyi yang dapat muncul secara tiba-tiba. Badan Geologi menekankan bahwa mitigasi berbasis kajian ilmiah menjadi kunci untuk mencegah dampak yang lebih besar di masa depan.

KEYWORD :

Badan Geologi Kementerian ESDM Fenomena Sinkhole Lubang Misterius Bencana Sumatra Sumatera Barat




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :