Rabu, 07/01/2026 21:03 WIB

Syaiful, Banjir Tamiang, dan Buku yang Tinggal Kenangan





Hujan pagi itu tak sedikit pun membuka tirai bagi mentari. Deras. Namun bagi Syaiful, ini bukan sesuatu yang luar biasa.

Buku yang terbawa oleh banjir di SMAN 4 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang (Foto: Muti/Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Hujan pagi itu tak sedikit pun membuka tirai bagi mentari. Deras. Namun bagi Syaiful, ini bukan sesuatu yang luar biasa. Hujan tak pernah menghalanginya tiba di SMA Negeri 4 Kejuruan Muda, seperti hari-hari lain.

Hingga Selasa terakhir November 2025, hujan memang belum kunjung memberi ampun. Empat hari empat malam air tumpah di penjuru Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, sementara hamparan tanah gading kecoklatan mulai letih menyerapnya.

Karena itu, Syaiful cukup maklum ketika hanya menjumpai gedung sekolah yang dipimpinnya sepi, meski jarum jam telah menunjuk pukul setengah delapan. Tak ada lalu lalang siswa, tak pula guru di ruang kelas. Mungkin sebab hujan, pikirnya.

Syaiful lalu beranjak ke luar ruangan. Di tengah sepi, dia berdiri di teras bertemankan sepatu fantopel yang mulai basah dan baju dinas yang terkena tempias hujan. Bayangan senyum malu-malu siswa yang kerap dia dapati lenyap di ujung imajinasi.

Seketika, lamunannya buyar. Ada yang berubah. Tatapannya menajam saat halaman belakang sekolah berubah cokelat. Debit air meningkat dalam hitungan menit.

"Saya lihat air di belakang sudah mulai naik. Pertama kali memang dari belakang," kata Syaiful saat ditemui di sela-sela kunjungan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu`ti pada Senin (5/1).

Banjir memang bukan hal asing di Aceh Tamiang. Tapi limpahan air di halaman belakang SMA Negeri 4 Kejuruan Muda seharusnya tak setinggi itu. Pikiran Syaiful lantas tertuju pada tumpukan buku di perpustakaan lantai satu yang mengirimkan sinyal bahaya.

Niat hati meminta bantuan, apa daya dirinya sendirian. Namun, keadaan memberinya jalan. Berjarak 100 meter dari gerbang sekolah, sembilan bocah remaja sedang asyik bermain air di saluran drainase perkebunan sawit yang mulai meluap.

"Nanti saya bayar," kata Syaiful kepada segerombolan bocah remaja tersebut. Permintaannya sederhana. Memindahkan buku dari perpustakaan ke lantai dua gedung ruang kelas. Dia pikir aman. Tawaran ini disanggupi.

Singkat cerita, buku berhasil dipindahkan. Syaiful yang merasa buku bacaan untuk para siswa itu pasti terhindari dari banjir, bergegas pulang. Dia membayangkan keluarganya yang kini ketakutan. Ketakutan ini pula yang membuat Syaiful nekat menerobos kawasan Kejuruan Muda meski sudah terkepung banjir.

Hari-hari setelahnya menjelma tragedi. Aceh Tamiang lumpuh oleh banjir bandang bercampur lumpur tebal. Banjir yang sama juga menghanyutkan sisa-sisa perjuangan Syaiful di SMA Negeri 4 Kejuruan Muda.

"Ketinggian air di sini tujuh meter. Lantai dua sepinggang. Ternyata bukunya juga enggak selamat sampai ke lantai dua. Aset kita habis semua," kata Syaiful. Air mata Syaiful pecah. Bibirnya bergetar tak kuasa melanjutkan kalimat.

Pernyataan Syaiful dikuatkan oleh sebuah video yang diterima Jurnas.com. Saat puncak banjir, deretan gedung guru dan ruang kelas SMA Negeri 4 Kejuruan Muda hanya menyisakan pucuk atap seng.

Peristiwa itu pula menyebabkan seluruh siswa di Kabupaten Aceh Tamiang tak bisa bersekolah selama dua bulan terakhir. Adapun upacara yang dipimpin Mendikdasmen menandai hari pertama masuk sekolah, meski pembelajaran terselenggara di tengah segala keterbatasan, termasuk siswa yang datang hanya mengenakan kaus dan beralaskan sandal.

"Sekolah tidak melarang dan mempermasalahkan atribut anak-anak. Yang penting anak bisa datang dan bersekolah. Orang tua juga senang anaknya bersekolah, karena sudah terlalu lama libur. Mungkin kalau di sekolah anak lebih terkontrol," ujar dia.

Senyum haru Syaiful memang merekah. Tapi hatinya masih diselimuti tebalnya awan kelabu yang melarung puluhan ribu lembar yang sempat dia selamatkan dua bulan lalu. Buku.

KEYWORD :

Kepsek Syaiful SMA Negeri 4 Kejuruan Muda Aceh Tamiang Bencana Sumatra




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :