Rabu, 07/01/2026 13:32 WIB

Peta Risiko Global Soroti Amerika Latin sebagai Zona Rawan Wabah Penyakit





Peta risiko penyakit global terbaru menunjukkan sekitar 9,3 persen daratan dunia berada dalam kategori rawan tinggi hingga sangat tinggi terhadap wabah berbahay

Ilustrasi - Peta risiko global soroti Amerika Latin dan Oseania sebagai zona rawan wabah penyakit (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Peta risiko penyakit global terbaru menunjukkan sekitar 9,3 persen daratan dunia berada dalam kategori rawan tinggi hingga sangat tinggi terhadap wabah berbahaya. Zona tersebut terutama terkonsentrasi di Amerika Latin dan Oseania, wilayah yang tengah menghadapi tekanan besar akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia.

Temuan ini berasal dari pemodelan global berbasis kecerdasan buatan dan data satelit yang mencakup hampir seluruh negara. Penelitian tersebut dipimpin epidemiolog veteriner Angela Fanelli dari Joint Research Centre Komisi Eropa yang meneliti keterkaitan perubahan lingkungan dengan meningkatnya risiko epidemi.

Melalui analisis tersebut, peneliti mengklasifikasikan 6,3 persen daratan dunia sebagai wilayah berisiko tinggi dan 3 persen lainnya sebagai sangat tinggi. Secara bersamaan, sekitar 20 persen populasi global tinggal di wilayah berisiko sedang, sementara 3 persen hidup di zona paling rentan.

Sebagian besar penyakit dalam peta ini bersifat zoonosis atau menular dari hewan ke manusia. Risiko ini meningkat seiring perluasan permukiman ke hutan dan semakin intensnya interaksi manusia dengan satwa liar pembawa patogen.

Di sisi lain, perubahan iklim menggeser pola penyebaran penyakit menular secara global. Kenaikan suhu, hujan ekstrem, dan kekeringan menciptakan kondisi yang semakin mendukung bertahannya virus dan vektor penyakit.

Akibatnya, nyamuk dan kutu pembawa penyakit kini mampu menyebar ke wilayah yang sebelumnya relatif aman. Penyakit tropis pun mulai muncul di lintang yang lebih tinggi seiring memanjangnya musim hangat.

Namun, tekanan terbesar justru datang dari aktivitas manusia di darat. Pembukaan hutan, pertanian intensif, dan kepadatan penduduk muncul sebagai faktor paling kuat dalam meningkatkan risiko wabah.

Untuk mengukur dampak nyata, peneliti menggabungkan potensi wabah dengan kapasitas respons kesehatan dalam sebuah indeks risiko epidemi. Negara seperti Papua Nugini dan Republik Kongo berada di posisi paling rentan karena menghadapi risiko tinggi dengan infrastruktur kesehatan terbatas.

Sebaliknya, banyak negara berpendapatan tinggi menunjukkan risiko wabah relatif rendah dengan kemampuan respons yang kuat. Kondisi ini menjadikan mereka simpul penting dalam dukungan laboratorium, pengembangan vaksin, dan respons kesehatan global.

Meski demikian, wabah tidak pernah sepenuhnya bersifat lokal. Mobilitas manusia dan perjalanan udara modern memungkinkan penyakit menyebar lintas benua dalam waktu singkat.

Karena itu, kesiapsiagaan tidak hanya bergantung pada fasilitas medis, tetapi juga pada deteksi dini, komunikasi publik, dan akses vaksin. Dalam konteks ini, model prediktif berbasis data iklim, satelit, dan wabah masa lalu menjadi alat penting sebelum krisis muncul.

Sejalan dengan pendekatan tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia terus memperbarui daftar penyakit prioritasnya, termasuk ancaman yang dikenal sebagai Disease X. Peta risiko ini pun berfungsi sebagai peringatan dini, menunjukkan wilayah yang membutuhkan perhatian global sebelum wabah berkembang menjadi krisis besar. (*)

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science Advances. Sumber: Earth

KEYWORD :

Peta Risiko Global Risiko Wabah Amerika Latin Wabah Penyakit




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :