Ilustrasi antibiotik (Foto: Pexels/Pixabay)
Jakarta, Jurnas.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan serius setelah data terbaru menunjukkan satu dari enam infeksi bakteri umum di dunia kini kebal terhadap antibiotik standar. Temuan global ini menandakan bahwa penyakit yang dulu mudah diobati mulai berubah menjadi ancaman mematikan.
Data tersebut dihimpun melalui sistem pemantauan WHO yang melibatkan laboratorium dari lebih 100 negara. Hasilnya menunjukkan resistensi antibiotik meningkat pada lebih dari 40 persen kombinasi bakteri dan obat dalam lima tahun terakhir.
Kondisi paling mengkhawatirkan terlihat di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, dan Mediterania Timur, di mana sekitar satu dari tiga infeksi tidak lagi merespons pengobatan utama. Sementara itu, di sejumlah negara Afrika, satu dari lima infeksi sudah resisten, diperparah oleh keterbatasan fasilitas kesehatan dan diagnosis yang terlambat.
Masalah ini semakin berat karena bakteri berbahaya seperti Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae kian kebal terhadap antibiotik lini pertama untuk infeksi darah. Lebih dari setengah kasus Klebsiella bahkan tidak lagi mempan terhadap sefalosporin generasi ketiga, obat yang selama ini menjadi andalan rumah sakit.
Ketika antibiotik terakhir seperti karbapenem ikut kehilangan efektivitas, pilihan dokter semakin sempit. Pasien terpaksa menerima obat lama yang lebih toksik, membutuhkan rawat inap lebih lama, dan meningkatkan risiko kematian.
WHO mencatat bahwa data ini baru puncak gunung es, karena hampir separuh negara belum memiliki sistem pemantauan resistensi yang memadai. Artinya, beban nyata infeksi kebal obat kemungkinan jauh lebih besar dari angka resmi.
Dampaknya sudah terasa secara global, dengan jutaan kematian setiap tahun terkait infeksi resisten, melampaui korban HIV dan malaria. Jika tidak ada perubahan signifikan, kematian akibat resistensi antibiotik diproyeksikan melonjak tajam pada 2050, terutama di kelompok lansia.
Sebagai respons, negara-negara anggota PBB sepakat memperkuat laboratorium, mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak perlu, serta membatasi pemakaian di sektor peternakan. Pendekatan terpadu ini dikenal sebagai strategi One Health yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
WHO menegaskan bahwa waktu dunia hampir habis untuk menyelamatkan antibiotik. Tanpa perubahan perilaku, kebijakan, dan investasi kesehatan publik, infeksi sederhana bisa kembali menjadi vonis mati. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Resistensi antibiotik WHO peringatan antibiotik infeksi bakteri mematikan krisis antibiotik global


























