Minggu, 04/01/2026 08:31 WIB

Tren Wisata Jarak Dekat, Pengamat Sebut Imbas Tiket Mahal





Wisata jarak dekat atau durasi singkat (micro tourism) menjadi fenomena sepanjang liburan Natal dan Tahun Baru.

Tugu, Yogyakarta menjadi salah satu incaran wisatawan (Foto: Agus Mughni/Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Wisata jarak dekat atau durasi singkat (micro tourism) menjadi fenomena sepanjang liburan Natal dan Tahun Baru. Destinasi wisata seperti Yogyakarta dan Bandung diserbu wisatawan yang ingin menghabiskan liburan di pergantian tahun.

Hal ini menurut peneliti pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. M. Yusuf terjadi karena kemudahan akses tol yang memangkas waktu tempuh secara drastis. Selain itu, persepsi keamanan terhadap bencana alam juga menjadi pertimbangan wisatawan.

"Wisatawan mempersepsikan Jogja memiliki tingkat keamanan yang tinggi atau risiko kerawanan yang rendah sehingga banyak sekali wisatawan hingga membludak," kata Yusuf dikutip dari laman resmi UGM pada Sabtu (3/1).

Namun, di balik tren tersebut, Yusuf juga memberikan catatan kritis mengenai urgensi mitigasi bencana pada destinasi wisata yang ada. Pasalnya, setiap destinasi wisata harus memiliki roadmap mitigasi bencana yang berisikan 3 poin penting.

"Pertama, identifikasi potensi bencana. Kedua, bagaimana menggunakan sumber daya baik untuk menjadi satu modal atau kekuatan dalam merespon bencana. Ketiga, jika terjadi bencana apa yang harus dilakukan," ujar dia.

Yusuf menyoroti penumpukan wisatawan (overtourism) yang kerap terjadi pada akhir pekan. Sebagai solusi, dia menyarankan agar pengelola wisata dapat megembangkan weekdays tourism melalui Health and wellness tourism.

Sebab, peluang untuk menciptakan program wisata pada hari kerja sangat terbuka lebar. Apalagi program ini akan meringankan beban infrastruktur dan akan memecah tumpukan pengunjung di akhir pekan.

"Sasarannya adalah segmen pengusaha, pensiunan, hingga pekerja remote yang tidak terikat jam kantor," kata dia.

Yusuf juga mengkritik wacana subsidi tiket pesawat. Dia menilai subsidi tiket hanya strategi pemasaran yang tidak menyelesaikan akar persoalan mahalnya biaya transportasi udara.

"Orang jadi berpikir dua kali untuk berwisata jauh itu karena harga tiket pesawat tinggi. Gagasan subsidi tiket hanyalah bahasa pemasaran. Lebih tepat jika ditempuh melalui prosedur penurunan pajak suku cadang pesawat dan maskapai bandara juga harga avtur," kata Yusuf.

Lebih lanjut, Yusuf mempertanyakan gagasan work from mall (WFM) yang dinilai kurang tepat. Ketimbang bekerja dari pusat perbelanjaan besar, dia lebih mendorong konsep bekerja dari destinasi wisata (work from tourism destination).

"Ketimbang kita menghidupkan kapitalis, mari kita coba berpihak kepada masyarakat rentan melalui desa wisata yang dikelola masyarakat," ujar dia.

Karena itu, Yusuf menekankan bahwa pariwisata inklusif adalah kunci karena penyegaran pikiran atau healing merupakan hak seluruh lapisan masyarakat.

Dia mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang membangun ruang publik gratis hingga tingkat kecamatan. Namun, ia juga mengingatkan agar pengelolaanya dilakukan secara profesional dan tidak alakadarnya.

KEYWORD :

Micro Tourism Wisata Jarak Dekat Pakar UGM Muhammad Yusuf Tiket Mahal




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :