Minggu, 04/01/2026 04:34 WIB

Menag Sebut Pengembangan AI Perlu Bimbingan Spiritual, Kenapa?





Menag Nasaruddin Umar menyebut pengelolaan dan manajemen penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi hal yang sangat penting

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memberi keterangn pers usai mengikuti upacara Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 di kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta, pada Sabtu (Foto: Kemenag)

Jakarta, Jurnas.com - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyebut pengelolaan dan manajemen penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi hal yang sangat penting.

Pasalnya, kata Menag, AI sebagai teknologi bermata dua yang dapat membawa kemajuan besar sekaligus berpotensi menimbulkan dehumanisasi jika tidak dikelola secara bijak.

"AI ini seperti pisau bermata dua. Karena itu harus dikelola dengan cermat dan bertanggung jawab. Tanpa pengelolaan yang tepat, risikonya bisa sangat serius," ujar Menag usai mengikuti upacara Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 di kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta, pada Sabtu (3/1).

Lebih lanjut, Menag mengatakan bahwa AI itu seperti atom yang bisa menjadi sumber energi yang sangat besar dan murah. Tetapi jika salah digunakan, dampaknya juga bisa sangat berbahaya.

Untuk itu, lanjut dia, Kemenag berperan memberikan arah moral dan spiritual dalam pengembangan teknologi, termasuk AI.

"Kami melihat pengembangan AI memerlukan bimbingan spiritual. Tanpa panduan nilai keagamaan, AI berpotensi melahirkan dehumanisasi baru. Ini yang harus kita antisipasi bersama," ujar dia.

Menag menambahkan, Kemenag tengah menindaklanjuti Deklarasi Istiqlal sebagai bagian dari upaya memberi arah etis bagi pengembangan teknologi.

"Peran Kementerian Agama adalah memberikan direction kepada umat dan warga bangsa. AI tidak boleh menjadi bumerang atau malapetaka. Sebaliknya, teknologi ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat kemajuan dan daya saing bangsa," kata dia.

Menag juga menilai pendekatan etika dan spiritual dalam pengembangan AI menjadi penting di tengah persaingan global yang semakin ketat. Menurutnya, kemajuan teknologi harus tetap berpijak pada nilai kemanusiaan agar tidak menggerus martabat manusia.

Dalam kesempatan itu, Menag juga mendorong jajaran Kementerian Agama (Kemenag), termasuk seluruh aparatur sipil negara (ASN) Kemenag untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman. Termasuk penguasaan AI, dengan tetap berlandaskan nilai keagamaan dan kemanusiaan.

“Kita hidup di era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) perubahan yang cepat, kompleks, dan penuh ketidakpastian. Di era ini, kita tidak boleh sekadar menjadi penonton. Kita harus memiliki kedaulatan AI,” ujar Menag.

Menag menegaskan bahwa Kementerian Agama memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan teknologi berkembang sejalan dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

KEYWORD :

Menteri Agama Nasaruddin Umar Pengembangan AI Bimbingan Spiritual Artificial intelligence




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :