Minggu, 04/01/2026 03:06 WIB

Supermoon Januari Bertemu Hujan Meteor Quadrantid, Apa Dampaknya?





Langit awal tahun 2026 menyuguhkan peristiwa langka ketika supermoon Januari bertepatan dengan hujan meteor Quadrantid

Ilustrasi supermoon Januari bertepatan dengan hujan meteor Quadrantid (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Langit awal tahun 2026 menyuguhkan peristiwa langka ketika supermoon Januari bertepatan dengan hujan meteor Quadrantid. Fenomena ini terjadi pada Sabtu, 3 Januari 2026, saat Bulan purnama paling terang dalam beberapa bulan terakhir naik bersamaan dengan lintasan sisa batuan antariksa yang memasuki atmosfer Bumi.

Quadrantid menjadi hujan meteor pertama di tahun baru dan dikenal sebagai salah satu yang paling intens. Namun, cahaya supermoon diperkirakan akan mengurangi jumlah meteor yang terlihat, dari potensi puluhan per jam menjadi kurang dari sepuluh di banyak wilayah.

Meski begitu, Quadrantid tetap menarik karena kerap memunculkan meteor besar atau fireball yang melintas cepat dan meninggalkan jejak cahaya. Hujan meteor ini berasal dari puing asteroid 2003 EH1 dan memiliki puncak singkat, sehingga waktu pengamatan menjadi faktor penentu.

Pengamat di Belahan Bumi Utara memiliki peluang terbaik untuk menyaksikannya, terutama di lokasi gelap yang jauh dari polusi cahaya. Menatap seluruh langit tanpa alat bantu dan memberi waktu mata beradaptasi dengan gelap akan meningkatkan peluang melihat kilatan meteor.

Di saat yang sama, Bulan purnama Januari hadir sebagai supermoon karena berada dekat titik terdekatnya dengan Bumi. Posisi ini membuat Bulan tampak lebih terang dan sedikit lebih besar dibanding purnama biasa, meski perbedaannya sering terasa lewat cahaya yang lebih kuat.

Purnama Januari juga dikenal sebagai Wolf Moon, nama tradisional yang merujuk pada musim dingin di belahan utara saat serigala kerap melolong di malam hari. Penamaan ini berasal dari tradisi lama yang menggunakan fase Bulan sebagai penanda musim.

Peristiwa ini menutup rangkaian supermoon yang terjadi beruntun dan menjadi pembuka kalender astronomi 2026. Tahun tersebut juga mencatat 13 kali purnama, termasuk fenomena Blue Moon pada Mei, serta hujan meteor lain seperti Lyrids yang akan muncul pada April.

Supermoon Januari membuka awal 2026 dengan cahaya Bulan yang lebih besar dan terang dari biasanya. Fenomena ini terjadi saat Bulan berada di titik terdekat dengan Bumi, membuat langit malam tampak lebih bercahaya.

Pada waktu yang sama, hujan meteor Quadrantid melintasi langit, namun dampaknya langsung terasa pada visibilitas. Cahaya supermoon berpotensi menutupi meteor kecil, sehingga hanya meteor terang dan fireball yang kemungkinan terlihat jelas.

Meski demikian, Quadrantid dikenal sebagai hujan meteor cepat dan intens. Karakter ini membuat sebagian meteor tetap mampu menembus cahaya Bulan dan menciptakan kilatan singkat di langit malam.

Dari sisi alam, supermoon dapat memicu pasang laut yang sedikit lebih tinggi, tetapi para ilmuwan menegaskan dampaknya bersifat normal dan tidak berbahaya. Tidak ada peningkatan risiko gempa atau bencana yang terbukti terkait langsung dengan supermoon.

Dampak terbesar justru dirasakan oleh pengamat langit. Kondisi ini menuntut strategi pengamatan yang lebih cermat, seperti mencari lokasi gelap dan menghindari arah Bulan.

Di sisi lain, pertemuan dua fenomena langit ini memberi nilai edukatif. Supermoon dan hujan meteor yang beriringan kerap menarik minat publik untuk kembali memperhatikan pergerakan alam semesta.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa langit selalu dinamis. Bahkan ketika cahaya Bulan mendominasi, alam semesta tetap menyuguhkan momen langka yang layak disaksikan. (*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Supermoon Januari Bulan Purnama Hujan Meteor Quadrantid Januari 2026 Dampak supermoon




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :