Ilustrasi - perempuan muda berdoa karena sedang memiliki rasa ragu dalam dirinya (Foto: Pexels/Pavel Danilyuk)
Jakarta, Jurnas.com - Dalam ajaran Islam, rasa ragu yang muncul sebelum melakukan suatu perbuatan tidak selalu bermakna negatif. Maknanya bisa berbeda, tergantung pada niat dan kondisi batin seseorang.
Ada kalanya keraguan menjadi bentuk kehati-hatian agar tidak terjerumus pada perkara yang melanggar syariat. Namun, pada situasi lain, keraguan justru datang sebagai godaan yang berupaya melemahkan keyakinan.
Allah SWT mengingatkan bahwa setan selalu berusaha menghalangi manusia dari kebaikan, termasuk dengan menanamkan kebimbangan dan permusuhan.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ العَدَاوَةَ وَالبَغْضَاءَ فِي الخَمْرِ وَالمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ
“Sesungguhnya setan bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui khamar dan judi, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan dari salat.” (QS. Al-Ma’idah: 91)
Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu cara setan bekerja adalah dengan membuat hati goyah dan jauh dari ketaatan.
Di sisi lain, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa keraguan bisa muncul ketika seseorang berhadapan dengan perkara yang belum jelas hukumnya.
Belajar Makna Taat dari Kisah Nabi Ibrahim AS
Beliau bersabda:
«إِنَّ الحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ لا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ»
“Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara samar yang tidak diketahui oleh banyak orang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam kondisi seperti ini, rasa ragu justru menjadi tanda keimanan: hati seorang mukmin enggan mengambil risiko jika sesuatu berpotensi mendatangkan dosa.
Namun, Islam juga mengingatkan agar keraguan tidak berubah menjadi penyakit hati berupa was-was yang berlebihan. Keraguan yang tidak berdasar bisa membuat seseorang menunda amal, ragu menjalankan ibadah, bahkan meninggalkan kewajiban.
Allah berfirman:
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ
“Dan apabila engkau digoda oleh bisikan setan, maka berlindunglah kepada Allah.” (QS. Al-A‘rāf: 200)
Untuk menghadapi keadaan seperti ini, Islam mengajarkan penguatan ilmu, memperbanyak doa, dan bertawakal kepada Allah.
Rasulullah SAW juga menanamkan prinsip ketenangan hati dalam mengambil keputusan.
Beliau bersabda:
«اسْتَفْتِ قَلْبَكَ… البِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ القَلْبُ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ»
“Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah sesuatu yang menenangkan jiwa dan menenteramkan hati. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang membuat jiwa gelisah dan hati bimbang.” (HR. Ahmad)
Dengan memperbanyak istikharah, bermusyawarah, dan mendekatkan diri kepada Allah, seorang Muslim dapat membedakan antara kehati-hatian yang benar dan keraguan yang justru melemahkan iman.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman rasa ragu Rasulullah SAW pertanda negatif






















