Gunung Wayang di Bandung Jawa Barat (Foto: Infogarut)
Jakarta, Jurnas.com - Belakangan ini, Gunung Wayang di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kembali menjadi perhatian publik. Terlebih setelah Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memberikan klarifikasi terkait status kawasan Gunung Wayang sebagai hutan lindung yang tetap berada dalam penguasaan negara.
Gunung Wayang berlokasi di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada ketinggian sekitar 2.182 meter di atas permukaan laut. Gunung ini merupakan gunung api kembar dengan Gunung Windu yang membentuk kompleks vulkanik Wayang–Windu.
Popularitas Gunung Wayang tidak hanya ditopang oleh kawasan vulkanik aktif dan sumber energi panas bumi, tetapi juga sebagai destinasi wisata alam serta lanskap budaya yang menyimpan sejarah unik, termasuk dalam hal penamaannya.
Di balik ketenarannya, asal-usul nama “Gunung Wayang” turut menyimpan beragam penafsiran. Lantas, mengapa dinamakan Gunung Wayang? Bagaimana asal usul penamaannya? Berikut adalah ulasannya yang dirangkum dari berbagai sumber.
Terdapat beberapa versi mengenai penamaan Gunung Padang. Versi pertama merujuk pada makna etimologis dalam tradisi Sunda. Kata “wa” dimaknai sebagai angin, sedangkan “hyang” merujuk pada kekuatan suci, sehingga Gunung Wayang dipahami sebagai ruang yang berkaitan dengan hembusan angin sakral.
Makna tersebut dianggap selaras dengan kondisi alam Gunung Wayang yang memiliki hembusan angin khas akibat kontur perbukitan dan aktivitas kawah. Oleh sebab itu, alam dipahami tidak hanya dilihat sebagai bentang fisik, melainkan sebagai simbol yang membentuk identitas tempat.
Versi kedua berkembang dari penafsiran visual, yang menamai gunung ini berdasarkan penanda alam di lerengnya. Di kawasan tersebut terdapat bebatuan yang menyerupai wayang atau gunungan dalam seni pedalangan, yang dikenal sebagai Batu Wayang dan diyakini menjadi asal-usul nama gunung tersebut.
Penafsiran lain, mengaitkan nama Gunung Wayang dengan nuansa legenda. Secara turun-temurun, warga meyakini bahwa pada malam Selasa dan Jumat dahulu kerap terdengar suara gamelan Sunda seperti iringan pertunjukan wayang golek. Suara itu dipercaya berasal dari para karuhun atau leluhur yang menjaga kawasan gunung.
Ada pula kepercayaan tentang tokoh pewayangan seperti Dalem Darpa Purwa, yang diyakini sebagai penjaga spiritual Gunung Wayang dan sering dikaitkan dengan dunia pedalangan Sunda. Keyakinan ini menempatkan Gunung Wayang sebagai ruang yang tidak hanya dihuni manusia, tetapi juga sarat makna spiritual.
Seiring waktu, Gunung Wayang berkembang menjadi kawasan energi panas bumi dan destinasi wisata alam tanpa kehilangan identitas namanya. Hal ini menunjukkan bahwa nama Wayang telah mengakar sebagai penanda budaya yang melampaui perubahan fungsi kawasan.
Sementara itu, Gunung Wayang kini berdiri sebagai ruang temu antara alam, budaya, energi, dan konservasi. Klarifikasi Kemenhut diharapkan mampu meredam misinformasi, sekaligus menegaskan bahwa pengelolaan kawasan ini tetap berpijak pada prinsip perlindungan lingkungan dan keberlanjutan. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Gunung Wayang Jawa Barat Kawasan Hutan Bandung Jabar Wayang Windu


























