Jum'at, 02/01/2026 17:08 WIB

Faktor Bibit Picu Produktivitas Kakao Nasional Menurun





Produktivitas kakao nasional mengalami penurunan dalam satu dekade terakhir.

Petani menjemur biji kakao. (Foto: Kementan)

Jakarta, Jurnas.com - Produktivitas kakao nasional mengalami penurunan dalam satu dekade terakhir. Data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mencatat, sejak 2015 produktivitas rata-rata berkisar pada 500-700 kg per hektare per tahun. Angka ini masih jauh di bawah negara produsen utama seperti Ghana, yang mampu mencapai produktivitas 800-1.000 kg per hektar.

Hal ini disoroti oleh peneliti sekaligus akademisi Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Nur Akbar Arofatullah. Menurut dia, persoalan kakao nasional jauh lebih kompleks daripada sekadar luas lahan.

"Ini menggambarkan bahwa kendala terbesar di lapangan adalah produktivitas yang rendah, yang sebagian besar dipicu oleh tekanan hama dan penyakit," kata dia dikutip dari laman resmi UGM pada Jumat (2/1).

Dia menjelaskan bahwa hama dan penyakit seperti penggerek buah kakao (PBK) serta penyakit vascular streak dieback (VSD) menjadi faktor utama penurunan hasil.

Dia menilai PBK merusak buah secara langsung, sementara VSD menyebabkan kematian bertahap pada batang dan daun. "Dua masalah ini sangat signifikan menekan produksi," ujar dia.

Saat ini, berbagai pendekatan pengendalian, termasuk penggunaan fungisida hayati dan insektisida hayati, sedang diuji untuk menekan kerusakan tanaman secara lebih berkelanjutan.

Namun demikian, Akbar menegaskan bahwa pengendalian hama dan penyakit tidak akan optimal tanpa didukung oleh penggunaan bibit kakao unggul. Menurut dia, salah satu akar persoalan produktivitas kakao nasional adalah masih luasnya penggunaan bibit asalan yang tidak terstandar, baik dari sisi potensi hasil maupun ketahanannya terhadap penyakit.

"Bibit unggul itu pondasi. Kalau sejak awal bahan tanamnya lemah, maka sebaik apapun pemupukan dan pengendalian hama, hasilnya tetap tidak maksimal," kara Akbar.

Dia mengatakan bahwa bibit kakao unggul tidak hanya berperan dalam meningkatkan produktivitas, tetapi juga menentukan keseragaman tanaman, umur mulai berbuah, serta stabilitas hasil dalam jangka panjang.

Selain itu, varietas unggul yang memiliki toleransi lebih baik terhadap PBK dan VSD dapat menurunkan risiko kegagalan panen sekaligus mengurangi ketergantungan petani pada pestisida kimia.

"Dengan bibit yang tepat, tekanan penyakit bisa ditekan sejak awal, dan biaya produksi petani menjadi lebih efisien," dia menambahkan.

Akbar juga menekankan bahwa persoalan bibit berkaitan erat dengan kualitas pascapanen dan mutu biji kakao. Varietas yang berbeda akan menghasilkan karakter biji yang berbeda pula, termasuk dari sisi ukuran biji, kandungan lemak, serta potensi pembentukan cita rasa setelah fermentasi. Karena itu, pemilihan bibit unggul menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan daya saing kakao Indonesia di pasar global.

Persoalan tersebut tidak hanya terjadi di perkebunan rakyat, tetapi juga di perkebunan skala besar ketika manajemen dan peremajaan tanaman tidak berjalan optimal. Banyak kebun tua yang belum diremajakan dengan bibit unggul sehingga produktivitas tetap rendah, meskipun dikelola secara profesional.

KEYWORD :

Produktivitas Kakao Pakar UGM Nur Akbar Arofatullah Bibit Kakao




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :