Ilustrasi timbangan untuk mengukur berat badan. (Foto: i yunmai/unsplash)
Jakarta, Jurnas.com - Definisi obesitas di Amerika Serikat tengah mengalami pergeseran besar alias didefinisikan ulang, bukan karena berat badan penduduk tiba-tiba naik, melainkan karena cara mengukurnya berubah.
Sebuah studi terbaru dari Mass General Brigham menunjukkan bahwa jutaan orang yang selama ini dianggap tidak obesitas ternyata menyimpan risiko kesehatan serupa.
Selama puluhan tahun, indeks massa tubuh atau BMI menjadi alat utama untuk menentukan obesitas karena mudah dan cepat digunakan. Namun, ukuran ini tak mampu membedakan lemak dan otot, juga gagal menangkap perubahan tubuh, terutama pada usia lanjut.
Keterbatasan itu mendorong lahirnya definisi baru obesitas yang tak lagi bergantung pada BMI semata. Dalam kerangka terbaru ini, distribusi lemak tubuh ikut diperhitungkan melalui ukuran lingkar pinggang, rasio pinggang-tinggi badan, dan rasio pinggang-pinggul.
Ketika definisi ini diterapkan pada data lebih dari 300 ribu orang dewasa di Amerika Serikat, hasilnya mencolok. Prevalensi obesitas melonjak dari 42,9 persen menjadi 68,6 persen, atau hampir tujuh dari sepuluh orang dewasa.
Lonjakan ini terutama datang dari kelompok dengan BMI normal tetapi memiliki penumpukan lemak di perut. Selama ini, kelompok tersebut kerap luput dari skrining meski menyimpan risiko kesehatan yang serius.
Usia menjadi faktor paling menonjol dalam perubahan ini. Pada kelompok usia di atas 70 tahun, hampir 80 persen memenuhi kriteria obesitas versi baru, mencerminkan pergeseran biologis di mana massa otot menurun dan lemak terkonsentrasi di area perut.
Yang lebih mengkhawatirkan, kelompok “baru” obesitas ini terbukti memiliki risiko lebih tinggi terhadap diabetes, penyakit jantung, dan kematian dibandingkan mereka yang benar-benar bebas obesitas. Bahkan, hampir setengah dari mereka sudah mengalami gangguan organ atau fungsi tubuh terkait obesitas.
Para peneliti menegaskan bahwa lokasi lemak jauh lebih menentukan daripada angka di timbangan. Lemak perut bersifat lebih aktif secara biologis, memicu peradangan, mengganggu kerja insulin, dan membebani organ vital.
Didukung puluhan organisasi medis, definisi baru ini berpotensi mengubah cara dokter melakukan skrining, menentukan terapi, hingga menyusun strategi pencegahan. Jika diadopsi luas, sistem kesehatan mungkin harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa obesitas bukan lagi kondisi pinggiran, melainkan norma baru yang perlu ditangani lebih dini dan presisi. (*)
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open. Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Definisi baru obesitas Lemak tubuh BMI normal Risiko obesitas

























