Jum'at, 02/01/2026 02:34 WIB

Bayi Terpapar Layar Sejak Dini Berisiko Alami Kecemasan Saat Remaja





Paparan layar sejak usia bayi ternyata tidak berhenti sebagai kebiasaan sesaat, tetapi dapat memengaruhi perkembangan otak hingga bertahun-tahun kemudian

Ilustrasi sedang melihat layar smartphone (Foto: Pexels/Kampus Production)

Jakarta, Jurnas.com - Paparan layar sejak usia bayi ternyata tidak berhenti sebagai kebiasaan sesaat, tetapi dapat memengaruhi perkembangan otak hingga bertahun-tahun kemudian. Penelitian terbaru menunjukkan bayi yang sering terpapar layar sebelum usia dua tahun berisiko lebih tinggi mengalami kecemasan saat remaja.

Studi ini dipimpin Dr. Ai Peng Tan dari National University of Singapore dengan mengikuti anak-anak sejak bayi hingga remaja melalui kohort Growing Up in Singapore Towards Healthy Outcomes. Peneliti menggabungkan pemindaian otak, tes kognitif, dan survei kesehatan mental untuk melacak dampak jangka panjang paparan layar dini.

Dua tahun pertama kehidupan merupakan fase paling cepat bagi pertumbuhan otak, ketika jaringan saraf yang mengatur penglihatan, perhatian, dan berpikir mulai terbentuk. Pada tahap ini, paparan layar sepenuhnya ditentukan oleh orang dewasa, menjadikannya periode yang sangat sensitif terhadap lingkungan.

Peneliti menemukan bahwa paparan layar tinggi sebelum usia dua tahun mempercepat pematangan jaringan otak visual dan kognitif. Namun, percepatan ini terjadi sebelum jaringan otak lain membangun koneksi yang efisien, sehingga keseimbangan perkembangan terganggu.

“Pematangan otak yang dipercepat bisa mengurangi fleksibilitas dan daya tahan mental anak,” ujar Huang Pei, penulis utama studi. “Jaringan otak berkembang terlalu cepat tanpa koneksi yang matang, sehingga kemampuan adaptasi di kemudian hari menjadi lebih lemah.”

Dampak perubahan ini mulai terlihat saat anak memasuki usia sekolah. Pada usia 8,5 tahun, anak-anak dengan pola perkembangan otak tersebut membutuhkan waktu lebih lama untuk mengambil keputusan.

Lambatnya pengambilan keputusan ini bukan tanda kehati-hatian, melainkan kesulitan memproses informasi visual secara efisien. Ketidakseimbangan pemrosesan membuat otak lebih lambat mencapai kepastian saat menghadapi pilihan.

Memasuki usia remaja, sekitar 13 tahun, anak-anak dengan proses pengambilan keputusan yang lebih lambat cenderung melaporkan tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Peneliti menemukan jalur yang konsisten dari paparan layar dini, perubahan jaringan otak, perlambatan kognitif, hingga munculnya kecemasan.

Meski demikian, penelitian ini juga menemukan faktor pelindung yang penting. Aktivitas membaca bersama orang tua terbukti membantu menyeimbangkan perkembangan otak dan melemahkan dampak negatif paparan layar dini.

Interaksi saat membaca melibatkan bahasa, emosi, dan respons sosial yang tidak diberikan oleh layar. Menurut Dr. Tan, temuan ini menegaskan bahwa pembatasan layar pada dua tahun pertama sangat krusial, sekaligus menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dapat membuat perbedaan besar.

Kesimpulannya, paparan layar pada bayi bukan sekadar isu kebiasaan modern, melainkan faktor yang dapat memengaruhi kesehatan mental jangka panjang. Mengurangi screen time dan memperbanyak interaksi langsung sejak dini dapat membantu membangun fondasi otak yang lebih sehat hingga remaja. (*)

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal EBioMedicine. Sumber: Earth

KEYWORD :

Paparan Layar Kecemasan Remaja Struktur Otak




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :