Jum'at, 02/01/2026 04:25 WIB

Ini Alasan Warna Kuning Dilarang saat Mendaki Gunung Sumbing





Gunung Sumbing, dengan lereng yang hijau dan kabut yang pelan-pelan menyelimuti jalur pendakian, selalu menyimpan cerita.

Ilustrasi - gunung Sumbing di Wonosobo, Jawa Tengah (Foto: wikipedia)

Jakarta, Jurnas.com - Gunung Sumbing, dengan lereng yang hijau dan kabut yang pelan-pelan menyelimuti jalur pendakian, selalu menyimpan cerita.

Tidak hanya tentang keindahan pemandangan, tetapi juga tentang tradisi yang hidup dari generasi ke generasi. Salah satunya: anjuran untuk tidak membawa atau mengenakan pakaian yang dominan berwarna kuning.

Di pos pendakian, dilansir dari beberapa sumber, aturan ini jarang tertulis. Tidak ada papan pengumuman yang tegas menolak warna tertentu. Namun, dari satu pendaki ke pendaki lainnya, cerita itu terus mengalir. Seolah menjadi bagian dari etika tak tertulis sebelum melangkah lebih jauh ke dalam kawasan pegunungan.

Dalam kepercayaan sebagian warga sekitar, warna kuning memiliki makna khusus. Ia identik dengan simbol kebesaran dan hal-hal yang dianggap sakral.

Karena itu, mengenakan warna tersebut di area tertentu dianggap kurang pantas, seolah memasuki ruang yang dihormati tanpa persiapan batin. Larangan ini bukan ancaman, melainkan ajakan halus untuk menundukkan ego di hadapan alam.

Di balik kisah tradisi itu, terselip pula penjelasan yang lebih rasional. Warna-warna terang seperti kuning memang mudah menarik perhatian di tengah hutan.

Beberapa jenis serangga cenderung merespons warna mencolok, sehingga berpotensi membuat pendaki kurang nyaman. Dalam beberapa kondisi, hal kecil seperti itu bisa berubah menjadi gangguan sepanjang perjalanan.

Karena itu, banyak pendaki memilih beradaptasi. Warna netral seperti hijau tua, hitam, cokelat, atau abu-abu menjadi pilihan yang lebih aman dan terasa menyatu dengan alam sekitar. Sederhana, tetapi memberi rasa tenang, baik bagi diri sendiri maupun bagi mereka yang masih memegang teguh tradisi.

Yang menarik, larangan warna kuning di Gunung Sumbing pada akhirnya bukan hanya soal warna. Ia adalah simbol. Simbol bahwa alam tidak sekadar ruang rekreasi, melainkan ruang yang memiliki cerita, rasa, dan kearifan.

Setiap pendaki diingatkan untuk tidak hanya mengejar puncak, tetapi juga belajar menghormati apa yang sudah dijaga oleh masyarakat setempat selama puluhan tahun.

Di tengah langkah, dingin yang merayap, dan langit yang perlahan terbuka, pesan itu terasa sederhana: mendaki bukan hanya perjalanan fisik, ia juga perjalanan hati untuk belajar lebih rendah hati di hadapan alam.

KEYWORD :

Gunung Sumbing Cerita Rakyat Kisah Mistis Warna kuning




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :