Kamis, 01/01/2026 20:39 WIB

Ini Lho Penyebab Korsleting Listrik yang Sering Picu Kebakaran





Kebakaran rumah akibat korsleting listrik masih mendominasi bencana kebakaran di berbagai wilayah, terutama di kawasan pemukiman padat penduduk.

Ilustrasi kebakaran (Foto: Reuters/Hamad I Mohammed)

Jakarta, Jurnas.com - Kebakaran rumah akibat korsleting listrik masih mendominasi bencana kebakaran di berbagai wilayah, terutama di kawasan pemukiman padat penduduk.

Meski kerap bermula dari kondisi sederhana seperti kabel terkelupas atau sambungan longgar, gangguan ini dapat berkembang menjadi kebakaran besar apabila tidak dikenali sejak awal.

Dosen dan Peneliti Kelompok Keahlian Teknik Ketenagalistrikan, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Dr. Ir. Kevin Marojahan Banjarnahor menjelaskan bahwa korsleting listrik pada dasarnya terjadi ketika dua konduktor yang seharusnya tidak saling bersentuhan justru terhubung akibat kerusakan isolasi.

"Secara teknis, korsleting listrik adalah kondisi ketika konduktor bertegangan bersentuhan dengan konduktor yang tidak bertegangan, misalnya karena isolasi kabel rusak akibat gigitan tikus," kata Kevin dikutip dari laman IPB University pada Kamis (1/1).

Ketika hubungan singkat terjadi, arus listrik dapat melonjak melebihi kapasitas kabel. Kenaikan arus ini menyebabkan temperatur meningkat sangat cepat pada penghantar maupun sambungan instalasi. Kevin menekankan bahwa percikan yang muncul dapat memiliki suhu ekstrem.

"Percikan listrik bisa mencapai lebih dari 3.000 derajat Celsius. Jika mengenai material yang mudah terbakar, api dapat langsung menyambar, terlebih bila MCB tidak bekerja optimal," dia menambahkan.

Kondisi ini semakin berbahaya karena korsleting sering tidak menunjukkan gejala awal. Banyak instalasi listrik tersembunyi di balik dinding atau plafon sehingga gangguan seperti rembesan air atau gigitan hewan tidak mudah terdeteksi.

Adapun terkait penyebab, lanjut Kevin, terdapat beberapa kondisi yang paling sering memicu korsleting di rumah tinggal. Pertama, isolasi kabel rusak akibat usia, panas berlebih, atau gigitan hewan. Kedua, sambungan kabel yang tidak sesuai standar, misalnya hanya dililit atau dibalut lakban.

Lalu, stopkontak dan ekstensi berkualitas rendah atau menggunakan kabel berdiameter kecil. Keempat, peralatan dalam ruangan yang dipakai di area luar ruangan sehingga mudah terkena air. Terakhir, penggunaan MCB atau sekring dengan rating terlalu besar sehingga tidak sensitif terhadap gangguan.

Kevin juga menyoroti bahwa banyak rumah di Indonesia masih menggunakan instalasi lawas atau tidak memenuhi standar Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL), termasuk tidak adanya grounding yang memadai maupun proteksi tambahan seperti GPAS (Grounding Pole and Surge Arrester System).

KEYWORD :

Korsleting Listrik Kebakaran Rumah Pakar IPB University Kevin Marojahan Banjarnahor




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :