Ilustrasi orang dewasa berpacaran (FOTO: INSTAGRAM)
Jakarta, Jurnas.com - Tren quiet dating belakangan ini mulai banyak diperbincangkan di kalangan anak muda. Berbeda dari pola kencan yang gemar diumbar ke media sosial, quiet dating justru menekankan pada hubungan yang dijalani secara lebih privat dan minim eksposur.
Bagi generasi muda yang tumbuh di era serba digital, pendekatan ini terasa seperti napas segar di tengah budaya pamer yang melelahkan.
Secara sederhana, quiet dating adalah gaya berkencan tanpa banyak publikasi, baik di media sosial maupun di lingkungan pertemanan.
Pasangan memilih untuk tidak mengunggah foto bersama, tidak terburu-buru memberi label hubungan, dan lebih fokus pada proses mengenal satu sama lain. Hubungan dijalani apa adanya, tanpa tekanan validasi dari luar.
Salah satu faktor pendorong tren ini adalah kelelahan digital. Anak muda kini semakin sadar bahwa terlalu banyak membagikan kehidupan pribadi dapat memicu stres, kecemasan, hingga perbandingan sosial yang tidak sehat. Dengan quiet dating, ruang privat terasa lebih terlindungi dan emosi pun lebih terjaga.
Selain itu, quiet dating juga muncul sebagai respons terhadap budaya kencan instan yang marak lewat aplikasi. Pola swipe, ghosting, dan hubungan singkat membuat sebagian anak muda memilih melambat. Mereka ingin membangun koneksi yang lebih tulus, tanpa harus dikejar ekspektasi cepat atau pengakuan publik.
Menariknya, tren ini juga berkaitan dengan upaya menjaga kesehatan mental. Dengan membatasi cerita tentang hubungan ke banyak orang, konflik dan dinamika personal bisa dikelola lebih dewasa. Pasangan tidak merasa diawasi atau dihakimi oleh opini luar, sehingga komunikasi bisa berjalan lebih jujur.
Dari sisi sosial, quiet dating memberi ruang bagi individu untuk mengenali perasaan sendiri. Anak muda belajar membedakan mana hubungan yang benar-benar membuat nyaman, dan mana yang sekadar ingin terlihat “berhasil” di mata orang lain. Fokus bergeser dari citra ke kualitas relasi.
Namun, quiet dating bukan berarti hubungan yang dirahasiakan secara ekstrem. Banyak pelakunya tetap terbuka kepada orang terdekat, hanya saja memilih tidak menjadikan hubungan sebagai konsumsi publik. Batasan ini justru dianggap sehat dan penuh kesadaran.
Tren ini juga menunjukkan perubahan cara pandang anak muda terhadap cinta. Hubungan tidak lagi harus ditandai dengan unggahan manis atau perayaan besar. Kebersamaan sederhana, percakapan mendalam, dan rasa aman justru menjadi indikator utama.
Di sisi lain, quiet dating menuntut kedewasaan emosional. Tanpa pengakuan sosial, individu perlu jujur pada diri sendiri tentang komitmen dan arah hubungan. Komunikasi yang jelas menjadi kunci agar tidak terjadi salah paham.
Pada akhirnya, quiet dating mencerminkan keinginan anak muda untuk kembali pada esensi hubungan itu sendiri. Di tengah hiruk pikuk dunia digital, mereka memilih menjalani cinta dengan lebih tenang, perlahan, dan bermakna, cukup diketahui oleh mereka yang menjalaninya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Tren Quiet Dating Pacaran Sehat Media Sosial











