Ilustrasi sedang menatap layar handphone (Foto: Doknet)
Jakarta, Jurnas.com - Penggunaan layar berlebihan pada anak tidak lagi bisa dianggap sekadar kebiasaan ringan. Sebuah studi jangka panjang berskala besar di Amerika Serikat menemukan keterkaitan antara screen time tinggi atau paparan layar berlebih dengan perubahan struktur otak yang mengatur perhatian dan kontrol diri.
Penelitian ini melacak hampir 10.000 anak usia 9 hingga 12 tahun dan menemukan bahwa anak dengan paparan layar lebih tinggi mengalami penipisan korteks otak dalam rentang dua tahun. Perubahan tersebut terjadi di area yang berperan penting dalam perhatian, memori kerja, dan pengambilan keputusan.
Temuan ini berasal dari Adolescent Brain Cognitive Development Study, proyek terbesar di AS yang meneliti perkembangan otak anak. Lebih dari 10.000 anak menjalani pemindaian MRI di awal penelitian, dan sekitar 7.800 di antaranya kembali dipindai dua tahun kemudian.
Selama periode tersebut, orang tua melaporkan durasi screen time anak yang mencakup televisi, gim, ponsel, dan layanan streaming, baik di hari kerja maupun akhir pekan. Gejala mirip ADHD juga dinilai melalui kuesioner perilaku standar yang banyak digunakan dalam riset klinis.
Untuk memperkuat hasil, peneliti mengontrol berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, latar belakang sosial ekonomi, durasi tidur, dan aktivitas fisik. Dengan demikian, hubungan yang ditemukan tidak mudah dijelaskan oleh faktor-faktor tersebut semata.
Hasil analisis menunjukkan bahwa paparan layar berlebih berkaitan dengan penipisan korteks di wilayah frontal dan temporal otak. Area ini dikenal sebagai pusat pengendali fokus, fleksibilitas kognitif, serta pengambilan keputusan yang matang.
Selain itu, anak dengan paparan layar lebih besar juga menunjukkan volume materi abu-abu yang lebih kecil secara keseluruhan. Perbedaan juga terlihat pada putamen kanan, bagian otak yang terlibat dalam sistem reward dan pengendalian impuls.
PPKM Darurat, Siaran Harus Berkualitas
Sejalan dengan perubahan struktural tersebut, anak-anak ini menunjukkan peningkatan gejala mirip ADHD dua tahun kemudian. Meski dampaknya kecil pada tingkat individu, efeknya konsisten dan signifikan secara statistik.
Namun demikian, peneliti menegaskan bahwa studi ini bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat. Bisa saja anak yang sejak awal memiliki kesulitan perhatian lebih tertarik pada konten digital dengan umpan balik cepat.
Keterbatasan lain muncul karena screen time dilaporkan sendiri dan tidak membedakan jenis konten yang dikonsumsi. Film edukatif, media sosial, dan gim berkecepatan tinggi dianalisis dalam kategori yang sama, meski dampaknya bisa berbeda.
Meski begitu, urutan waktunya memberi sinyal penting karena paparan layar lebih dulu muncul sebelum perubahan otak terdeteksi. Pola ini memperkuat kekhawatiran bahwa pengalaman digital dapat memengaruhi jalur perkembangan otak anak.
Masa kanak-kanak dan remaja awal merupakan periode krusial ketika otak sedang membentuk dan memangkas koneksi saraf secara besar-besaran. Karena itu, perubahan kecil yang konsisten berpotensi berdampak luas pada tingkat populasi.
Para peneliti menyarankan pendekatan yang seimbang dengan memastikan anak cukup tidur, aktif bergerak, dan memiliki interaksi sosial langsung. Penggunaan layar, terutama konten dengan stimulasi tinggi, disarankan dikelola secara sadar, bukan dibiarkan tanpa batas.
Kesimpulannya, screen time bukan faktor yang netral dalam perkembangan anak, meski juga bukan penentu tunggal masa depan mereka. Studi ini menjadi pengingat bahwa cara dan durasi anak berinteraksi dengan layar layak mendapat perhatian serius di era digital. (*)
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Translational Psychology. Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Creen Time Paparan Layar Berlebih Struktur Otak Kontrol Diri
























