Ilustrasi - Studi DMT Membuka Cara Baru Memahami Kesadaran dan Identitas Manusia (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa dimethyltryptamine (DMT), psikedelik cepat-kerja yang dikenal mampu kacaukan persepsi dalam hitungan detik, dapat membantu ilmuwan memahami bagaimana otak membentuk kesadaran dan konsep diri manusia.
Dalam penelitian terkontrol terhadap 27 orang dewasa sehat, para peneliti memantau perubahan aktivitas otak saat peserta mengalami melemahnya rasa identitas pribadi. Studi ini dipublikasikan di Journal of Neuroscience.
Penelitian dipimpin oleh Christopher Timmermann dari University College London, yang mempelajari pengaruh psikedelik pada kesadaran manuasia. Timnya bekerja sama dengan peneliti di Belanda dan Amerika Serikat untuk memetakan dinamika otak selama pengalaman sadar yang intens.
Para relawan menjalani dua sesi: satu dengan infus DMT dan satu lagi dengan placebo. Dengan begitu, aktivitas otak dapat direkam dan dibandingkan dengan pengalaman subjektif yang dilaporkan peserta.
Karena efek DMT muncul cepat dan hilang dalam sekitar 20 menit, seluruh perjalanan psikedelik bisa terekam dalam satu sesi. Hal ini menjadikan DMT alat unik untuk meneliti bagaimana perubahan mendadak dalam otak memengaruhi rasa diri.
Fokus utama analisis berada pada gelombang alfa, ritme listrik otak yang dominan saat tenang. Pelemahan gelombang ini sering berkaitan dengan hilangnya rasa keterikatan pada diri.
Para peneliti juga meninjau criticality, titik keseimbangan antara keteraturan dan kekacauan dalam aktivitas otak. Titik ini dianggap menopang kemampuan otak memproses informasi dengan stabil namun fleksibel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa DMT mendorong gelombang alfa menjauh dari titik kritis menuju keadaan subkritis yang lebih tenang dan kurang terstruktur. Pergeseran ini sejalan dengan pengalaman ego dissolution, ketika batas antara diri dan dunia melemah.
Untuk memahami perubahan lebih rinci, tim mengukur entropi sinyal otak, indikator ketidakpastian aktivitas listrik. Gelombang alfa menjadi lebih acak tetapi kurang kompleks, menandakan informasi diproses secara lebih terfragmentasi.
Analisis dengan detrended fluctuation analysis menunjukkan melemahnya struktur temporal gelombang alfa. Hal ini membuat otak kesulitan menyatukan masa lalu, kini, dan masa depan menjadi narasi diri yang koheren.
Studi lain mendukung temuan ini, menunjukkan penurunan daya alfa dan beta serta peningkatan keragaman sinyal pada puncak pengalaman DMT. Selain itu, EEG dan pencitraan otak memperlihatkan konektivitas lintas korteks meningkat sementara batas antarjaringan melemah.
Para peneliti menekankan bahwa penelitian ini dilakukan dalam lingkungan terkontrol dengan peserta yang disaring ketat. Penggunaan psikedelik di luar pengawasan medis tetap membawa risiko psikologis dan fisik yang nyata.
Ke depan, penelitian akan menelusuri apakah pergeseran criticality serupa muncul pada meditasi mendalam, anestesi, tidur, atau keadaan lain yang mengubah rasa diri. Jika pola ini konsisten, dinamika otak dapat menjadi bahasa universal untuk memahami berbagai bentuk kesadaran yang berubah. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Studi DMT Kesadaran Manusia Identitas Diri Aktivitas Otak


























