Gedung Sate di Bandung Jawa Barat (Foto: Pemprov Jabar)
Jakarta, Jurnas.com - Belakangan ini, pembangunan gapura dan pagar baru Gedung Sate di Bandung, Jawa Barat, tengah menjadi perbincangan publik. Proyek yang disebut-sebut menelan dana sekitar belasan miliar rupiah ini disorot karena dianggap kurang prioritas dibanding kebutuhan masyarakat seperti fasilitas dan kualitas pendidikan, perbaikan jalan, higga kesejahteraan masyarakat.
Di sisi lain, sorotan juga datang dari kalangan arsitek, pemerhati kota, budayawan, hingga akademisi yang menilai desain gapura bercorak candi tersebut tidak selaras dengan karakter kawasan, serta berpotensi merusak nilai historis.
Meski begitu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut renovasi sah dilakukan karena pagar lama bukan bagian dari bangunan heritage. Ia juga menekankan desain gapura telah melalui riset arsitektural dan ditetapkan dalam Detail Engineering Design, bukan sekadar selera pribadi.
Menurut KDM, sapaan akrabnya, gapura yang menyerupai candi itu mengadopsi arsitektur kerajaan Cirebon, yang sarat nilai budaya, dan hampir serupa dengan peninggalan kerajaan Mataram dan Majapahit.
Di tengah perdebatan itu, wajar jika masyarakat turut menyorot isu ini, mengingat Gedung Sate bukan sekadar kantor pemerintahan, tetapi juga memiliki sejarah dan nilai budaya yang panjang. Ia menjadi ikon sejarah yang menyimpan cerita menarik, termasuk soal asal-usul namanya yang unik.
Adat Pernikahan Sunda yang Sarat Makna
Gedung Sate bukan hanya kantor Gubernur Jawa Barat, yang kini `dihuni` KDM, tapi juga simbol identitas warga Bandung, dan Jawa Barat. Namun, tahukah Anda bahwa nama “Gedung Sate” tidak pernah ditetapkan secara resmi? Berikut adalah ulasannya yang dirangkum dari berbagai sumber.
Menurut edukator Museum Gedung Sate, Wenno Guna Utama nama unik ini lahir dari reaksi spontan warga Bandung pada 1920-an yang menjuluki nama panjang Departemen Pekerjaan Umum Belanda (Departement Verkeer en Waterstaat) menjadi sesuatu yang mudah diingat.
Sembilan Wisata Menarik di Kota Subang
Warga menamai gedung itu “Gedung Sate” karena ornamen di puncak menara menyerupai tusuk sate dengan enam bulatan. Julukan ini bukan sekadar lelucon, tetapi juga mencerminkan kreativitas lokal dan bentuk simbolik resistensi terhadap kolonialisme.
Tusuk sate itu ternyata memiliki makna filosofis, yakni melambangkan enam juta gulden, biaya pembangunan Gedung Sate pada masa kolonial. Jika dikonversikan ke nilai saat ini, biayanya setara lebih dari Rp420 miliar, jumlah yang fantastis untuk era 1920-an.
Selain filosofi di puncak menara, Gedung Sate menampilkan perpaduan arsitektur lintas budaya. Ir. J. Gerber merancang struktur utama bergaya Renaissance Italia, jendela ala Moorish Spanyol, dan menara yang terinspirasi candi Nusantara serta pagoda Asia, membentuk gaya Indo-Eropa yang kini menjadi warisan arsitektur penting.
Sejak 1980, Gedung Sate menjadi kantor Gubernur Jawa Barat, namun perannya jauh lebih luas dari fungsi administratif. Gedung ini terus menjadi ikon kota, saksi sejarah, museum, dan ruang publik yang hidup setiap kali ada peristiwa penting atau perayaan warga.
Dengan sejarah panjang, filosofi simbolis, dan kreativitas masyarakat dalam menamai, Gedung Sate menunjukkan bahwa sebuah bangunan bukan sekadar fisik, tetapi juga identitas budaya. Bahkan di tengah polemik renovasi, gedung ini tetap menjadi simbol abadi Kota Bandung dan Jawa Barat.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Gedung Sate Jawa Barat Dedi Mulyadi


























