Kamis, 05/03/2026 02:55 WIB

Pakar Filsafat Sebut AI sebagai Peluang, Bukan Tantangan





Dosen Filsafat Islam sekaligus Staf Ahli Menteri Agama, Budhy Munawar Rachman, menyampaikan peran Artificial Intelligence (AI) untuk Filsafat Islam

Dosen Filsafat Islam sekaligus Staf Ahli Menteri Agama, Budhy Munawar Rachman (Foto: Ist/Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (ASAFI) se-Indonesia menggelar International Conference bertema `Critical Discourse on Islamic Philosophy` pada Jumat (28/11).

Gelaran ini menghadirkan akademisi dari berbagai kampus dan menjadi ruang pembahasan peran filsafat Islam dalam menghadapi perubahan global, termasuk perkembangan Artificial Intelligence (AI).

Dosen Filsafat Islam sekaligus Staf Ahli Menteri Agama, Budhy Munawar Rachman, menyampaikan kesannya terhadap konferensi tersebut. Ia melihat forum ini penting karena membuka percakapan mengenai relevansi filsafat Islam di tengah kondisi dunia yang dinamis.

“Acara konferensi pagi ini bagus sekali karena kita membicarakan apa yang bisa disumbangkan oleh filsafat Islam. Secara kritis terhadap dunia yang sekarang ini, dunia yang sudah berubah, berkembang, maju, tapi juga banyak krisis-krisis. Nah, melihat peran kritis filsafat Islam itu menjadi sangat penting,” ujar Budhy.

Budhy menilai pengembangan Aqidah dan Filsafat Islam ke depan tidak bisa dipisahkan dari keterlibatan aktif dalam isu-isu sosial di masyarakat.

Ia berharap disiplin ini tidak hanya berkembang di ranah akademik, tetapi juga hadir sebagai kekuatan intelektual yang memberi dampak nyata.

“Ya, ke depannya Aqidah dan filsafat itu harus lebih memberi pengaruh kepada masyarakat. Supaya filsafat Islam itu tidak terpinggirkan. Filsafat Islam perlu maju, memberi kontribusi terhadap masalah sosial,” kata Budhy.

Menurutnya, posisi filsafat Islam saat ini masih banyak berkutat pada warisan pemikiran masa klasik. Padahal, perkembangan zaman menuntut dialog yang lebih luas.

“Karena filsafat Islam kita itu masih abad pertengahan, di masa klasik dulu. Filsafat Islam yang sekarang masih belum tumbuh. Dan itu perlu berdialog dengan dunia filsafat sendiri yang juga berkembang,” ucapnya.

Saat ditanya mengenai keluaran yang diharapkan dari konferensi ini, Budhy menilai forum tersebut berpotensi menjadi langkah awal mendorong ruang filsafat lebih besar dalam percakapan nasional, terutama di sektor demokrasi dan isu-isu kontemporer.

“Ya harapannya kita bisa lebih memberi filsafat peranan yang besar di era yang sekarang banyak tantangannya. Termasuk tentang demokrasi di Indonesia,” tuturnya.

Ia juga merespons isu yang sempat disampaikan dalam forum mengenai menurunnya jumlah pemikir besar dari Indonesia. Menurutnya, konferensi ASAFI bisa menjadi pintu pembuka, meski perjalanan panjang masih perlu ditempuh.

“Ya pasti ini memberi kontribusi sedikit tapi sebenarnya ke depannya akan peranannya. Think globally but act locally. Kita berpikir besar tapi mulai dengan yang kecil-kecil,” tambah Budhy.

Salah satu sorotan utama dalam sesi wawancara adalah masa depan filsafat di tengah kehadiran Artificial Intelligence (AI). Budhy melihat AI bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai alat pendukung bagi para pengkaji filsafat.

“AI sangat membantu, akan sangat membantu, memudahkan. Jadi kita jangan menolak AI, kita tidak anti AI. AI itu harus dijadikan teman kita dalam belajar filsafat,” ujarnya.

Ia menilai AI mampu mempercepat akses terhadap literatur dan pengetahuan yang sebelumnya memerlukan waktu lama untuk dikaji secara manual.

“Bisa, karena perpustakaan seperti ini yang berbukunya banyak sekali, itu AI bisa membaca semuanya,” katanya.

Budhy menutup pandangannya dengan menyebut bahwa AI membuka kesempatan baru bagi pendalaman studi filsafat.

“Sebenarnya AI ini bukan tantangan, tapi dia menjadi peluang. Peluang kita untuk lebih mendalam dalam berfilsafat. AI membantu,” tutupnya.

KEYWORD :

Artificial Intelligence Filsafat Islam Budhy Munawar Rachman ASAFI 2025




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :