
Aliansi Santri Nahdliyyin Yogyakarta berunjuk rasa di pertigaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA). (Foto: Ist)
Yogyakarta, Jurnas.com - Desakan kepada KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), agar segera lengser dari kursi Ketua Umum PBNU, terjadi di Yogyakarta. Massa aksi yang menamakan diri `Aliansi Santri Nahdliyyin Yogyakarta` berunjuk rasa di pertigaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA).
Dalam orasinya, massa belasan santri itu menyampaikan kekecewaannya terhadap sikap PBNU yang tidak memiliki empati terhadap penderitaan warga negara Palestina yang dijajah dan ditindas zionis Israel. Padahal, menurut mereka, para pendahulunya termasuk muassis NU sangat empati kepada bangsa Palestina. Bahkan Hadratussyeikh KH M. Hasyim Asy’ari dalam moment khutbah iftitah Kongres para Ulama menegaskan momentun hari Mi’raj, bulan Rajab 1358 H sebagai ‘hari Palestina’.
Dari poster yang mereka bentangkan dalam aksi, terlihat, mereka menolak agen zionis yang berada di jam’iyyah NU. Mereka menyampaikan ucapan ‘turut berduka cita atas matinya hati nurani Yahya (Gus Yahya, Ketua Umum PBNU)’.
Thoha, salah satu peserta aksi yang turut berorasi, mempertanyakan sebab yang merasuki Gus Yahya sehingga begitu mudah dipengaruhi dan diperalat para zionis Israel.
“Mungkin hati nuraninya sudah mati. Tidak lagi bercahaya untuk bisa melihat kebenaran yang terjadi di Palestina,” kata Thoha dalam orasinya.
“Virus apa yang membuat Ulama sekelas Ketua Umum PBNU, menjadi lemah, dan mudah dipermainkan, diperalat oleh kepentingan zionis Israel. Kita para santri nahdliyyin menjadi sangat berduka,” sambung orasinya.
Unjuk rasa, yang dimulai sekitar pukul 14:15 WIB itu dilatari oleh keresahan santri-santri NU Yogyakarta atas kebijakan memalukan Ketua Umum PBNU, Gus Yahya yang memberi panggung kepada tokoh akademis dan praktisi global pro zionis Israel dalam pengkaderan di PBNU. Bagi para santri pengunjuk rasa, NU sebagai organisasinya para Ulama mulia nan suci, dikotori oleh agen zionis yang pikirannya menghalalkan penjajahan, penindasan dan pembantaian warga Palestina.
Juga diduga, Gus Yahya berperan dalam menghadirkan Peter Berkowitz, jelas-jelas bagian dari jejaring zionisme global, menjadi nara sumber di orientasi program paska sarjana UI, 2025, Sabtu (23/8). Pasalnya, Gus Yahya adalah Ketua Majelis Wali Amanah (MWA) UI, dimana sepekan sebelumnya, dalam kapasitas sebagai Ketua Umum PBNU, telah meminta Peter Berkomitz menjadi pemateri dalam 6 dari 8 sesi perkuliahan di Akademi Kepemimpinan Nasional (AKN) NU yang dilaksanakan PBNU, sejak Juni-Desember 2025.
Walaupun rektor UI telah meminta maaf atas kecerobohannya, kemudian disusul Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU, juga memohon maaf karena kurang cermat menseleksi nara sumber, namun kecaman pedas dan kritik tajam, terus mengalir dari publik.
“Saya mohon maaf atas kekhilafan dalam mengundang Peter Berkowitz tanpa memperhatikan latar belakang zionisnya. Hal ini terjadi semata-mata karena kekurang cermatan saya dalam melakukan seleksi dan mengundang nara sumber,” ujar Gus Yahya dilansir Antara, Kamis (28/8/2025).
Publik, demikian pula berbagai kalangan di internal NU tidak begitu saja menerima permohonan maaf dan pengakuan ketidak cermatan Gus Yahya. Karena, terucap sendiri oleh Gus bahwa dirinya mengenal Peter Berkowitz sejak tahun 2020. Perkenalan dan pertemanan yang berjalan 5 tahun, tentu berkualitas untuk saling memahami dan mendalami.
Aksi massa aliansi santri nahdliyyin Yogyakarta, ditengah jalan pertigaan UIN SUKA, sebelum bergeser ke arah kantor PWNU DIY Yogyakarta, menyampaikan pernyataan sikapnya.
“Menyayangkan kecerobohan Yahya Cholil Staquf dan jajaran PBNU yang telah mengundang agen-agen zionis Israel kedalam pengkaderan AKN PBNU. Hal itu, melukai hati Santri dan Nahdliyyin,” ujar Thoha, tentang isi pernyataan sikap.
“Dan (yang dilakukan PBNU), merusak marwah dan nama baik jamiyyah Nahdlatul Ulama, serta menciderai komitmen jamiyyah dalam melawan segala bentuk kolonialisme,” sambungnya.
Thoha menjelaskan, keseluruhan pernyataan sikap aksi massa aliansi santri nahdliyyin Yogyakarta ditujukan untuk menyelamatkan NU dari antek-antek zionis. Dirinya mengajak nahdliyyin bergerak meminta pertanggung jawaban Gus Yahya yang telah membawa NU pada kondisi berbahaya.
“Situasinya bisa berbahaya bagi masa depan NU. Maka, dalam aksi ini kami mendesak agar Gus Yahya dilengserkan dari Ketua Umum PBNU. Ya, mundur atau dicopot lah karena mengkhianati kemulian jam’iyyah NU,” ungkapnya.
KEYWORD :Gus Yahya PBNU Israel Nahdliyyin Yogyakarta