Jum'at, 29/08/2025 21:19 WIB

Ketika Rasulullah Dikritik, Beginilah Pemimpin Seharusnya Bersikap

Di tengah tensi politik dan sosial yang terus meninggi, muncul pertanyaan mendasar, bagaimana seharusnya pemimpin dan bawahannya merespons kritik masyarakat? Islam sebagai agama rahmat sejatinya telah memberikan teladan jelas melalui figur Rasulullah ﷺ, bukan hanya dalam berdakwah, tapi juga dalam menyikapi kritik dan penolakan.

Ilustrasi - Kalimat Muhammad Rasulullah membentang dan menyala di atas mesjid (Foto: Pexels/Zeki Okur)

Jakarta, Jurnas.com - Belakangan ini, gelombang unjuk rasa kembali mencuat di Indonesia, khususnya di Jakarta. Teranyar, publik dikejutkan oleh peristiwa memilukan, seorang pengemudi ojek online meninggal dunia setelah terlindas mobil Brimob dalam aksi demonstrasi di Jakarta, Rabu, 28 Agustus 2025.

Diketahui aksi ujuk rasa atau demonstrasi tersebut merupakan bagian dari protes yang berkembang atas berbagai isu nasional, termasuk kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat kecil.

Di tengah tensi politik dan sosial yang terus meninggi, muncul pertanyaan mendasar, bagaimana seharusnya pemimpin dan bawahannya merespons kritik masyarakat? Islam sebagai agama rahmat sejatinya telah memberikan teladan jelas melalui figur Rasulullah ﷺ, bukan hanya dalam berdakwah, tapi juga dalam menyikapi kritik dan penolakan.

Dikutip dari laman Nahdlaul Ulama, salah satu kisah paling relevan datang dari pertemuan Rasulullah dengan Utbah bin Rabi’ah, seorang tokoh Quraisy yang datang menyampaikan kritik tajam. Utbah menyebut bahwa dakwah Nabi telah memecah belah masyarakat, mengganggu sistem lama, bahkan menyinggung keyakinan para leluhur. Ia menawarkan harta, kekuasaan, dan jabatan agar Rasulullah menghentikan seruannya.

Namun Rasulullah tidak menyela. Tidak membalas dengan kemarahan. Beliau menunggu dengan tenang hingga Utbah selesai bicara, lalu membacakan ayat-ayat dari Surah Fussilat. Tidak ada kekerasan, tidak ada represi, hanya penyampaian kebenaran dengan tenang dan berwibawa.

Inilah akhlak kenabian yang menjadi fondasi kepemimpinan Islam—di mana kritik, bahkan dari pihak oposisi, tidak dipadamkan dengan kekuatan, tapi direspons dengan kesabaran, adab, dan dialog.

Rasulullah tahu bahwa kritik bukan sekadar luapan emosi, tetapi bisa lahir dari keresahan yang tulus. Maka pemimpin yang meneladani beliau seharusnya tidak alergi terhadap suara rakyat, apalagi yang disampaikan secara damai.

Khalifah Umar bin Khattab juga menunjukkan hal serupa. Ia tidak hanya menerima kritik dari rakyatnya, tetapi memujinya. “Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan aibku,” katanya. Pernah, seorang rakyat biasa mengoreksi kebijakan Umar di hadapan umum. Ketika beberapa orang hendak membungkamnya, Umar malah berkata, “Biarkan. Kita masih dalam kebaikan selama ada yang mau menegur.”

Konteks Indonesia hari ini membutuhkan semangat itu. Kritik bukan ancaman bagi negara, tapi napas demokrasi. Seharusnya tidak ada korban jiwa dalam menyampaikan pendapat di ruang publik. Apalagi jika suara itu datang dari rakyat kecil yang selama ini memikul beban kebijakan.

Teladan Rasulullah dan Umar menunjukkan bahwa pemimpin yang kuat bukan yang anti kritik, tapi yang sanggup mendengarkan dengan hati lapang dan menjadikan kritik sebagai bahan muhasabah.

Di tengah situasi yang panas, kita butuh lebih banyak pemimpin yang menjawab kritik seperti Nabi menjawab Utbah: dengan keteguhan prinsip dan akhlak yang luhur, bukan dengan intimidasi atau kekerasan. (*)

Wallahu`alam

KEYWORD :

Teladan Rasulullah Kritik Demo Unjuk Rasa




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :