Sabtu, 29/11/2025 18:44 WIB

Irama Musik Bisa Menyetel Ulang Otak dalam Sekejap, Ini Penjelasan Ilmiahnya





Melalui kombinasi teknologi magnetoensefalografi dan algoritma FREQ-NESS, para ilmuwan kini bisa menyaksikan langsung bagaimana otak menyesuaikan dirinya saat mendengar suara.

Ilustrasi sedang mendengarkan musik (Foto: Pexels/Andrea Piacquadio)

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah peta otak terbaru menunjukkan bagaimana irama musik mampu mengubah cara kerja pikiran hanya dalam hitungan detik. Melalui kombinasi teknologi magnetoensefalografi dan algoritma FREQ-NESS, para ilmuwan kini bisa menyaksikan langsung bagaimana otak menyesuaikan dirinya saat mendengar suara.

Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Aarhus University dan University of Oxford, dipimpin oleh Dr. Mattia Rosso dan Leonardo Bonetti. Mereka mengamati bagaimana aktivitas otak merespons suara bip berulang dengan frekuensi 2,4 Hz.

Dalam kondisi diam, otak didominasi oleh default mode network yang berkaitan dengan fokus pada diri sendiri. Namun begitu suara mulai terdengar, kontrol berpindah cepat ke area auditori kanan yang lebih responsif terhadap stimulus luar.

Perpindahan ini menunjukkan bahwa otak tidak bekerja secara statis, melainkan terus menyesuaikan jaringan internalnya terhadap input yang masuk. Dan di sinilah FREQ-NESS berperan besar dalam mengungkap dinamika tersebut.

Berbeda dari metode konvensional yang bergantung pada anatomi atau pita frekuensi luas, FREQ-NESS memetakan otak berdasarkan perilaku frekuensinya. Artinya, ia bisa mendeteksi pergeseran aktivitas bahkan ketika terjadi di wilayah otak yang sama.

Selama stimulasi suara, FREQ-NESS menemukan dua puncak utama di spektrum frekuensi: satu sesuai dengan bunyi 2,4 Hz, dan satu lagi di 4,8 Hz yang merupakan harmoniknya. Puncak pertama mengaktifkan Heschl’s gyrus sebagai pusat pendengaran utama, sementara puncak kedua menjangkau wilayah yang terhubung dengan memori dan emosi.

Menariknya, meskipun pola umum frekuensi otak tetap, semua puncak frekuensi bergeser posisi. Ini membuktikan bahwa irama tidak sekadar menambah jalur aktivitas baru, melainkan menyetel ulang keseluruhan sistem yang ada.

Perubahan juga terjadi pada gelombang alpha dan beta yang biasanya bersifat stabil. Gelombang alpha berpindah dari area parieto-okipital ke sensorimotor, sementara beta tetap di tempat namun menjadi lebih terfokus.

Fenomena ini memperkuat temuan sebelumnya tentang keterlibatan gelombang otak dalam kesiapan motorik dan pengaturan waktu. Bahkan dalam kondisi irama sederhana, otak tetap menunjukkan penyesuaian halus terhadap pola tersebut.

Lebih mengejutkan lagi, gelombang gamma dengan frekuensi tinggi antara 60 hingga 90 Hz juga ikut terlibat. Aktivitas ini tampak berosilasi seiring ritme lambat, menunjukkan adanya keterkaitan antara ritme lambat dan komunikasi cepat antarsistem otak.

Yang menarik, sinyal gamma justru muncul di luar area pendengaran seperti insula, girus frontal inferior, dan hipokampus. Pola ini mengarah pada kemungkinan bahwa gamma berperan dalam integrasi suara dengan perhatian dan pembentukan memori.

Secara teknis, FREQ-NESS bekerja dengan membandingkan kovarians pita sempit dan lebar, lalu mengekstrak aktivitas otak melalui generalized eigendecomposition. Hasil akhirnya berupa peta otak tiga dimensi yang menyerupai pencitraan fungsional biasa, membuat data lebih mudah dipahami.

Keunggulan lain dari metode ini adalah kemampuannya memisahkan frekuensi yang tumpang tindih, tanpa mengorbankan ketajaman spasial. Dan karena bersifat open-source, metode ini bisa langsung digunakan oleh tim peneliti lain di seluruh dunia.

Dengan pendekatan baru ini, kemungkinan aplikasi terbuka lebar. Dokter bisa menggunakannya untuk memantau respons otak terhadap pengobatan atau operasi, sementara terapis musik dapat menyesuaikan ritme untuk memengaruhi keadaan mental pasien.

Selain itu, teknologi brain-computer interface juga berpotensi memanfaatkan data ini untuk menciptakan sistem yang selaras dengan ritme alami otak. Penelitian ke depan akan menguji bagaimana otak merespons suara yang lebih kompleks, termasuk musik, ucapan, dan bahkan gerakan bibir tanpa suara.

Temuan ini pada akhirnya menegaskan bahwa mendengarkan bukanlah proses pasif. Setiap suara yang kita dengar, sekecil apa pun, sedang mengatur ulang cara kerja otak kita.

Penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Advanced Science. (*) Sumber: Earth

KEYWORD :

Musik Aktivitas otak Pemetaan otak Neurosains musik Reaksi otak terhadap suara




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :