Minggu, 16/06/2024 09:26 WIB

Indonesia Harap Pertemuan ANF Jadi Ajang Diskusi Keselamatan Pelayaran

Pertemuan yang digelar oleh tiga negara pantai yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapura ini merupakan tindaklanjut dari ANF Committee Meeting ke-29 yang dilaksanakan pada bulan November 2023 lalu di Surabaya, Jawa Timur.

Delegas pertemuan 30th The Aid Navigation Fund (ANF) di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Rabu (29/5/2024). Foto: djpl/jurnas

JAKARTA, Jurnas.com – Pemerintah Indonesia berharap pertgemuan ke-30 bantuan pendanaan bagi navigasi pelayaran atau The Aids to Navigation Fund (ANF) menjadi ajang berdiskusi serta bertukar keahlian dan pengalaman terkait isu-isu keselamatan pelayaran.

Pertemuan ini juga diharapkan membuat semakin banyak negara yang terlibat untuk memberikan jaminan keberlangsungan ANF.

Hal itu disampaikan Kepala Subdirektorat Perencanaan Teknis Kenavigasian Nanditya Darma Wardhana dalam pertemuan ANF ke-30 di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Rabu (29/5/2024).

“Kami berharap seluruh peserta dalam pertemuan ini dapat secara intens berdiskusi serta bertukar keahlian dan pengalaman, serta agar bisa memberikan fokus maksimal pada agenda diskusi yang terkait isu-isu keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura,” kata Nanditya.

Pertemuan yang digelar oleh tiga negara pantai yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapura ini merupakan tindaklanjut dari ANF Committee Meeting ke-29 yang dilaksanakan pada bulan November 2023 lalu di Surabaya, Jawa Timur.

Nanditya menekankan bahwa forum ini merupakan salah satu wadah utama bagi negara-negara pengguna dan pemangku kepentingan untuk bertemu dan mengadakan diskusi terbuka dengan negara-negara pesisir Selat Malaka dan Singapura. Selat ini diakui sebagai salah satu selat paling signifikan rute pelayaran di dunia.

“Melalui forum ini, kami mengundang negara pengguna dan stakeholder untuk mendukung penyediaan dan pemeliharaan alat bantu navigasi di Selat Malaka dan Singapura,” ujar Nanditya.

“Kami menantikan diskusi yang bermanfaat serta menyampaikan keyakinannya bahwa semangat kerja sama antara negara-negara pantai, industri dan pemangku kepentingan, berdasarkan pasal 43 UNCLOS 1982, yang kemudian akan meningkatkan keselamatan navigasi dan perlindungan lingkungan maritim di wilayah tersebut.” Imbuhnya.

Selain tiga negara pantai dan negara pengguna, pertemuan tersebut dihadiri oleh Republik Rakyat Tiongkok, Republik India, Jepang, Republik Korea, Kerajaan Arab Saudi, Dewan Selat Malaka (MSC), The Nippon Foundation, dan Witherby Publishing Group, serta Baltic and International Maritime Council (BIMCO). Mereka hadir sebagai pengamat.

Pada pertemuan ini, masing-masing negara pantai menyampaikan presentasi yang berisikan laporan atas pekerjaan pemeliharaan seperti pekerjaan sipil dan struktur, pemeliharaan menara suar, Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP), suku cadang maupun kelistrikan.

Sedangkan program kerja Tthun 2024 yang diajukan oleh Indonesia meliputi persiapan pekerjaan untuk penggantian serta SBNP.

Selain itu, komite mencatat laporan pemeliharaan 51 SBNP penting dalam Skema Pemisahan Lalu Lintas (TSS) di SOMS sesuai dokumen ANF yang disajikan oleh Negara-negara pesisir.

Pertemuan ANF ke-31 berikutnya dijadwalkan pada bulan November 2024 di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

KEYWORD :

ANF Navigasi SBNP Pelayaran Selat Malaka




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :