Rabu, 19/06/2024 01:36 WIB

Aktivis 98 Pajang Ribuan Tengkorak Manusia dan Kuburan Peringati 26 Tahun Reformasi

Sejumlah mahasiswa, pejabat negara, media, dosen, fotografer, dan pembuat konten sosmed begitu antusias melihat penampakan pertujukan 2.000 tengkorak dan 1.000-an kuburan di berjejer di halaman markas Front Penyelamat Reformasi Indonesia ini.

Gabungan aktivis 98, penggiat HAM, hingga korban pelanggaran HAM memajang sekitar 2.000 tengkorak dan 1000 kuburan di Jalan Diponegoro 72, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (21/5). (Foto: Dok. Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Gabungan aktivis 98, penggiat HAM, hingga korban pelanggaran HAM memajang sekitar 2.000 tengkorak dan 1000 kuburan yang ditampilkan secara dramatis dan diperkuat dengan pameran foto di Jalan Diponegoro 72, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (21/5).

Aksi tersebut dilakukan dalam rangka memperingati 26 tahun reformasi serta napak tilas pelanggaran HAM era Orde Baru. Dimana kekerasan Orde Baru yang menurut berbagai literasi membantai lebih dari 500.000 jiwa dalam sekian banyak peristiwa berdarah baik untuk kepentingan politik maupun ekonomi kekuasaan dan kroninya.

Adapun, sejumlah kasus pelanggaran yang menjadi sorotan hingga saat ini diantaranya Penembakan Misterius 1982, Rumah Heudong 1989, Kasus Sutet, Pembunuhan Munir, Udin Bernas, Marsinah, Pembunuhan Massal 1965, Poso dan Sampit.

Sejumlah mahasiswa, pejabat negara, media, dosen, fotografer, dan pembuat konten sosmed begitu antusias melihat penampakan pertujukan 2.000 tengkorak dan 1.000-an kuburan di berjejer di halaman markas Front Penyelamat Reformasi Indonesia ini.

Mereka juga terlihat memperhatikan satu persatu instalasi kuburan yang terbuat dari papan triplek. Disetiap istalasi kuburan itu juga terdapat sejumlah nama korban pelanggaran HAM, diantaranya Munir, Widji Thukul, Marsinah hingga Udin Bernas.

Taburan bunga juga menghiasi instalasi kuburan yang ada di sana. Sebuah bendera merah putih dengan warna sudah mulai pudat juga terpampang di atas tumpukan instalasi tengkorak. Aroma dupa juga tercium menyengat di lokasi acara.

Hal ini menambah suasana muram kasus pelanggaran HAM yang tak kunjung terselesaikan hingga saat ini. Di bagian panggung, terdapat seruang peringatan 26 tahun reformasi `Kami Masih Akan Terus Melawan`.

Koordinator Perhimpunan Aktivis 98 Fauzan Luthsa mengatakan, aksi ini digelar bukan hanya sebagai peringatan reformasi, tetapi mengingatkan bahwa para aktivis dan korban pelanggaran HAM masih ada dan terus melawan.

Dalam kesempatan itu, dia juga menjelaskan bahwa kondisi demokrasi saat ini yang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.

"Kami menganggap hal ini harus terus dilanjutkan agar pemerintahan saat ini atau pemerintah nanti tidak akan mencoba memutar balikan sejarah," ucap Fauzan Luthsa.

Sebagai informasi, pertunjukan 2.000 tengkorak dan 1.000-an kuburan akan digelar selama 3 hari mulai 21-23 Mei 2024. Nantinya, akan ada diskusi bersama para aktivis, penggiat HAM hingga korban pelanggaran HAM.

 

KEYWORD :

26 tahun reformasi aktivis pelanggaran HAM Orde Baru




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :