Senin, 17/06/2024 08:44 WIB

Myopia Week, Kasus Mata Minus pada Anak Usia Sekolah Terus Meningkat

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan di berbagai sekolah pada 800 anak usia 5-15 tahun atau tingkat TK hingga SMP, 67% terdeteksi mengalami gangguan refraksi.
 

Salah satu kegiatan Myopia Week salam MiYOSMART Goes to School yang digelar HOYA Lens Indonesia. Foto: dok. jurnas

JAKARTA - Progresivitas kasus Myopia atau yang lebih dikenal dengan rabun jauh atau mata minus pada anak usia sekolah dilaporkan terus meningkat.

Salah satu pemicunya adalah transformasi digital dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang massif dilakukan sejak pandemi Covid-19 pada 2020 lalu.

Bahkan, para ahli memprediksi bahwa lebih dari 50% populasi di dunia akan mengalami Myopia pada 2050.

“Karena itu, intervensi dini terhadap Myopia menjadi hal mutlak dilakukan,” kata Managing Director HOYA Lens Indonesia, Dodi Rukminto, Senin (21/5/2024).

Dodi mengatakan, salah caranya dengan memberikan edukasi masif kepada pihak-pihak yang berkepentingan, terutama orang tua, guru, tenaga kependidikan dan pelajarnya, tentang pentingnya mengelola Myopia pada anak, termasuk upaya deteksi dan intervensi dini.

Terkait dengan hal itu, HOYA Lens Indonesia menggelar kegiatan MiYOSMART Goes to School (MGTS) di sejumlah sekolah dalam memperingati Myopia Week pada 13-19 Mei 2024.

Dodi mengatakan, Myopia Week bertujuan untuk menyebarkan informasi bahwa Myopia sedang berkembang dan mempengaruhi anak-anak di seluruh dunia, serta memberikan edukasi tentang opsi perawatan untuk menahan laju perkembangannya.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin menggerakan kepedulian orang tua terhadap kondisi kesehatan anaknya melalui pengecekan mata, edukasi kesehatan mata oleh para ahli, serta menginformasikan adanya opsi kontrol yang telah teruji klinis dan terbukti efektif menahan pertumbuhan Myopia rata-rata 60%,” kata Dodi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan di berbagai sekolah pada 800 anak usia 5-15 tahun atau tingkat TK hingga SMP, 67% terdeteksi mengalami gangguan refraksi, dan 56% diantaranya merupakan Myopia.

Dari jumlah tersebut, hanya kurang dari 50% yang telah dikoreksi atau mendapatkan penanganan berupa kacamata single vision.

Dokter spesialis mata lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado, dr. Ratna Dewi Dwi Tanto, Sp.M mengaku prihatin dengan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap Myopia dan pentingnya pemeriksaan mata sejak dini.

Menurutnya, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap Myopia bisa dilakukan dengan menggencarkan penyuluhan oleh berbagai pihak dari mulai pemerintah, lembaga kesehatan, hingga organisasi non-profit.

“Memasukkan materi perawatan mata dalam mata pelajaran dan ekstrakulikuler sekolah, memberikan arahan kepada orang tua agar membatasi anaknya dari paparan layar elektronik, memperbanyak layanan kesehatan mata yang terjangkau, hingga penelitian dan pengembangan akademisi dan dunia medis,” kata dr. Ratna.

KEYWORD :

Myopia Week Mata Minus Anak Usia Sekolah Rabun




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :