Selasa, 27/02/2024 07:22 WIB

INTERNASIONAL

AS Khawatir Kepentingannya di Timur Tengah Dirongrong Iran

Menlu Amerika Serikat, Rex Tillerson mengkhawatirkan Iran melakukan provokasi yang bertujuan untuk mendestabilisasi Timur Tengah dan merongrong kepentingan AS di wilayah tersebut.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat, Rex Tillerson (Foto: Getty)

Washington - Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat, Rex Tillerson mengkhawatirkan Iran melakukan provokasi yang bertujuan untuk mendestabilisasi Timur Tengah (Timteng) dan merongrong kepentingan AS di wilayah tersebut.

"Iran yang tidak terkendali memiliki potensi melakukan perjalanan yang sama seperti Korea Utara (Korut) dan membawa dunia bersamanya," kata Tillerson, dilansir BBC, Kamis (20/4)

Presiden Donald Trump sebelumnya memerintahkan peninjauan kembali kesepakatan nuklir Iran. Namun, AS mengakui Teheran mematuhi kesepakatan 2015 tersebut. Iran sejauh ini tidak membuat komentar publik mengenai perkembangan terakhir. Negeri Para Mulla itu berulang kali membantah tudingan dari Barat bahwa mereka pernah mencoba untuk mengembangkan senjata nuklir.

Pada Selasa (18/4), Washington menuduh Korut mencoba melakukan provokasi, setelah Pyongyang melakukan uji coba rudal yang gagal akhir pekan ini. Sebagai tanggapan, Korut mengatakan bahwa pihaknya dapat menguji rudal setiap minggu, dan memperingatkan "perang habis-habisan" jika AS mengambil tindakan militer.

Berbicara pada Rabu (19/4), Tillerson mengatakan bahwa tinjauan Iran, yang diumumkannya dalam sebuah surat kepada Kongres sehari sebelumnya, tidak hanya akan melihat kepatuhan Teheran terhadap kesepakatan nuklir tetapi juga tindakannya di Timur Tengah. Ia menuduh Iran meruntuhkan kepentingan AS di Lebanon, Irak, Suriah dan Yaman."Kebijakan Iran yang komprehensif mengharuskan kita mengatasi semua ancaman yang ditimbulkan oleh Iran, dan jelas jumlahnya banyak," katanya

Sekretaris negara yang sebelumnya mengakui bahwa Iran telah memenuhi persyaratan kesepakatan 2015, namun kini kembali munculkan was-was, bahwa negara  tersebut sebagai "sponsor terorisme negara". Presiden Trump telah mengatakan kesepakatan penting tersebut sebagai "kesepakatan terburuk yang pernah ada," pungkasnya

Namun, pendahulunya Barack Obama berpendapat kesepakatan tersebut, antara Iran dan enam kekuatan dunia termasuk China, Rusia dan Inggris, adalah cara terbaik untuk mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir. Sanksi diangkat setelah Badan Energi Atom Internasional (IAEA) bersertifikat Teheran telah membatasi aktivitas nuklirnya yang sensitif.

TAGS : Nuklir Iran Amerika Serikat Korut




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :