Senin, 14/06/2021 04:26 WIB

Dedi Mulyadi Membangun Purwakarta, Menghormati Budaya Leluhur

Perubahan itu lahir oleh tangan dingin penuh kreatifitas budaya Dedi Mulyadi. Pria dengan iket khasnya itu, meniti tahap pembangunan dengan sabar penuh bersahabat.

Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta (IST)

Kemajuan Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat mengundang rasa penasaran. Kota yang berjuluk Kota Sate Maranggi ini mengalami perubahan. Mulai dari peningkatan mutu pendidikan, infrastruktur, pelayanan kesehatan dan sektor lainnya.

Perubahan itu lahir oleh tangan dingin penuh kreatifitas budaya Dedi Mulyadi. Pria dengan iket khasnya itu, meniti tahap pembangunan dengan sabar penuh bersahabat.

Adalah pengenalan idiom budaya sunda yang membedakan diri Purwakarta dalam memompa semangat membangun.

"Kami merasakan betapa nilai budaya leluhur penuh kosakata kearifan dalam membangun. Masyarakat diajak untuk mengenali jati dirinya. Setelah itu mereka bisa bahu-membahu menyertai pembangunan yang kami hadirkan," katanya.

Sudah banyak acara kebudayaan yang digelar di Purwakarta. Bahkan Dedi pernah didaulat memberikan pidato kebudayaan di depan PBB.

"Generasi muda boleh menguasai teknologi, tapi tidak boleh meninggalkan budaya," kata Dedi Mulyadi dengan nada yang penuh semangat di hadapan lebih dari 1.000 peserta yang duduk memenuhi ruang sidang utama konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di kota New York.

Kang Dedi memberikan pidato di markas PBB, Selasa, 18 Agustus 2015, menyampaikan pandangannya terkait kebudayaan dengan tema "Kepemimpinan Moral dan Inovatif" dengan visi layanan, kewirausahaan dan leadership, memenuhi undangan penyelenggara konferensi, IYLA (International Young Leader Assembly).

Konferensi PBB ini dihadiri oleh peserta anak-anak muda, mewakili lebih dari 60 negara. Para pembicara dengan berbagai latar belakang dihadirkan dari Amerika Serikat, Paraguay, Kenya, Malaysia dan Indonesia. Khusus untuk Indonesia, selain Kang Dedi, juga dihadirkan tokoh muda Gugun Gumilar, pendiri Institute of Democracy and Education, yang juga staf ahli bidang pendidikan dan agama Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Penghargaan PBB sejurus dengan ide kreatif dari Kang Dedi, demikian biasa disapa, tidak hanya menyentuh satu sektor, tapi juga di sektor lain. Di bidang pembangunan insfrastruktur telah rampung 100 persen.

Bagi siapa saja yang berkunjung ke Purwakarta, bisa merasakan jalan yang berstatus kabupaten telah berlapis aspal hitam. Kondisi jalan pun dibuat lebih lebar. Pembangunan infrastruktur itu sudah merata. Jalan desa hingga ke pelosok pun sudah bagus sekaligus penambahan akses jalan baru. Yakni, jalur penghubung Kecamatan Sukasari-Maniis.

Begitu juga untuk penyediaan listrik bagi masyarakat Purwakarta telah selesai 100 persen. Seluruh masyarakat telah menikmati aliran listrik. Selain pembangunan infrastruktur yang lebih baik, pemkab pun berhasil melakukan penataan perwajahan Purwakarta. Saat ini, kondisi kabupaten yang mengedepankan spirit budaya dalam pembangunannya itu lebih terlihat indah. 

Karena, pemkab setempat sejak beberapa tahun ini memanfaatkan ruang terbuka hijau (RTH) untuk dihias sedemikian rupa menjadi sebuah taman-taman yang indah. Yakni, Taman Sri Baduga (Situ Buleud).

Selain Situ Buleud, pemkab pun menyulap beberapa lokasi sudut kota menjadi sebuah taman-taman indah dengan berbagai bunga dan fasilitas penunjang lainnya. Saat ini, sudah ada sekitar 50 taman indah yang telah dibangun.

Selain pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum, masih banyak contoh lain buah kinerja Dedi Mulyadi. Yakni, di sektor pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Sejak empat tahun terakhir, Pemkab terus berupaya membenahi fasilitas kesehatan.

Salah satu yang paling menonjol, yakni program kesehatan gratis bagi seluruh masyarakat yang diberi nama program Jaminan Kesehatan Masyarakat Purwakarta Istimewa (Jammpis). Kebijakan yang digulirkan sejak 2013 lalu ini, bentuk perlindungan dan jaminan kesehatan kepada masyarakat.

Dalam program ini, pemkab menggandeng 11 Rumah Sakit yang ada di Purwakarta dan Bandung. RS tersebut, ditunjuk sebagai pelayan untuk memberikan pengobatan bagi warga Purwakarta yang sakit.

Jadi, dalam program ini semua masyarakat yang miskin dan yang kaya jika sakit bisa dilayani di 11 rumah sakit dengan cukup membawa foto kopi kartu keluarga (KK), KTP, dan surat rujukan dari Puskesmas setempat. 

Selain itu, pemkab pun menambah fasilitas cuci darah di RSUD dan menanggung biaya untuk pasien cuci darah. Kemudian, pelayanan kesehatan di RSUD diberlakukan dua kelas di rumah sakit tersebut. Yakni, kelas umum dan kelas VIP. Kelas umum, khusus bagi pasien keluarga miskin. Sedangkan kelas VIP, khusus bagi pasien berbayar.

“Pemkab tetap berkomitmen untuk terus menyelesaikan persoalan masyarakat. Salah satunya sektor pelayanan kesehatan. Karena, sudah menjadi kewajiban negara untuk hadir dalam menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut,” ujar Dedi.

Kang Dedi biasa ia disapa menambahkan, sejak kepemimpinannya, anggaran yang ada banyak diperuntukkan kepentingan publik. Salah satunya, dengan cara efisiensi anggaran di setiap kantor pemerintahan. Anggaran yang berhasil dihemat itu, diperuntukan guna kepentingan pelayanan publik.

TAGS : Dedy Mulyadi Purwakarta budaya




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :