Rabu, 29/05/2024 00:36 WIB

AS Desak Normalisasi Hubungan Israel-Saudi

 Presiden Joe Biden tidak memiliki ilusi bahwa mewujudkan hubungan diplomatik penuh Saudi-Israel dapat dilakukan dengan cepat atau mudah.

Wakil Menteri Luar Negeri Antony Blinken Perjalanan ke Jepang, Republik Korea, Vietnam, dan Indonesia (State dept./ AP Images)

JAKARTA, Jurnas.com - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Antony Blinken menyerukan Arab Saudi dan Israel untuk melakukan normalisasi hubungan.

"AS memiliki kepentingan keamanan nasional yang nyata dalam mempromosikan normalisasi antara Israel dan Arab Saudi," kata Blinken ke salah satu kelompok lobi kuat pro-Israel American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) pada Senin (5/6), waktu setempat.

"Kami percaya kami bisa dan memang kami harus memainkan peran integral dalam memajukannya," kata Blinken.

Dia mengatakan pemerintahan Presiden Joe Biden tidak memiliki ilusi bahwa mewujudkan hubungan diplomatik penuh Saudi-Israel dapat dilakukan dengan cepat atau mudah.

"Tapi kami tetap berkomitmen untuk bekerja menuju hasil itu, termasuk dalam perjalanan saya minggu ini ke Jeddah dan Riyadh untuk keterlibatan dengan rekan-rekan Saudi dan Teluk," katanya.

Blinken rencannya tiba Selasa malam (6/6) di Jeddah, pelabuhan Laut Merah tempat kerajaan Saudi yang berkuasa menyimpan istana untuk musim panas. Pada Rabu dan Kamis  dia akan berada di Riyadh untuk pertemuan tingkat menteri Dewan Kerjasama Teluk dan pertemuan terpisah dari koalisi 80 negara kuat yang memerangi kelompok Negara Islam.

Blinken diperkirakan akan bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, kekuatan de facto di negara tersebut.

Terlepas dari hubungan dekat yang sudah berlangsung lama, hubungan AS dengan Saudi telah diuji dalam beberapa tahun terakhir, atas masalah hak asasi manusia seperti pembunuhan jurnalis pembangkang Jamal Khashoggi oleh kelompok yang terkait dengan istana kerajaan Saudi, dan upaya Riyadh untuk menaikkan harga minyak setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Selain itu, Saudi baru-baru ini memberi China kesempatan untuk memasuki dinamika politik Timur Tengah ketika Beijing menengahi pemulihan hubungan tentatif antara Riyadh dan musuh bebuyutan Teheran.

Dan pada bulan Mei Pangeran Mohammed menjamu Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang legitimasinya ditolak oleh Washington, di Jeddah.

Tetap saja, hubungan AS-Saudi sangat intim, terutama pertahanan: Washington memberikan perlindungan keamanan raksasa Arab Sunni dari Iran Syiah, dan Saudi membeli sejumlah besar senjata dari AS.

Keduanya juga terlibat dalam upaya untuk mengakhiri perang selama bertahun-tahun di Yaman yang mengadu pemberontak Houthi yang didukung Iran melawan pemerintah yang lemah, yang didukung oleh koalisi pimpinan Saudi.

Dan baru-baru ini Saudi menjadi tuan rumah dalam negosiasi Jeddah antara faksi militer yang bertikai di Sudan.

Jeddah bulan lalu juga menjadi tujuan pertama bagi diplomat asing dan warga negara Sudan yang mengungsi dari Khartoum setelah pertempuran meletus.

"Ada banyak pekerjaan yang kami coba lakukan" dengan kunjungan itu, kata Daniel Benaim, seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri yang menangani urusan Semenanjung Arab. "Kami fokus pada agenda afirmatif di sini dan banyak pekerjaan besar yang dapat dilakukan negara kita bersama."

Washington telah meningkatkan dorongannya untuk hubungan Saudi-Israel setelah keberhasilan Abraham Accords, inisiatif yang diluncurkan oleh mantan presiden Donald Trump untuk membujuk negara-negara Arab agar mengakui negara Yahudi.

Meskipun Israel dan Arab Saudi telah lama mempertahankan kontak reguler di tingkat tidak resmi, Riyadh telah menolak untuk mengakui Israel, sebagian karena perlakuan Israel terhadap minoritas Palestina.

"Upaya integrasi dan normalisasi bukanlah pengganti kemajuan antara Israel dan Palestina, dan mereka tidak boleh mengorbankannya. Hubungan Israel yang semakin dalam dengan mitranya dapat dan harus memajukan kesejahteraan rakyat Palestina," katanya.

Sumber: AFP

KEYWORD :

Antony Blinken Amerika Serikat Normalisasi Hubungan Arab Saudi dan Israel Timur Tengah




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :