Selasa, 28/05/2024 07:33 WIB

Internasional

Amerika Tak Berani Bertindak Lawan Korut

Dewan keamanan PBB kecam peluncuran misil Korea Utara yang diluncurkan pada akhir pekan lalu

Foto yang Dirilis Kantor Berita Korea Utara Saat Percobaan Misil Pukguksong-2 dipandu oleh pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (Foto: Reuters)

Seoul - Dewan keamanan PBB kecam peluncuran misil Korea Utara yang diluncurkan pada akhir pekan lalu. Kantor berita Reuters melaporkan, PBB juga mendesak para anggotanya agar melipatgandakan usaha untuk memberikan sanksi terhadap negara komunis tersebut, namun hingga kini tidak ada tanda-tanda akan mengambil tindakan apapun atas pelanggaran tersebut.

Tes rudal yang dilakukan oleh Pyongyang pada hari Minggu lalu adalah tantangan pertama pada masyarakat internasional sejak Presiden AS Donald Trump menjabat pada 20 Januari lalu. Pada konferensi pers yang digelar hari Senin, Trump mengatakan, "Jelas bahwa Korea Utara adalah masalah besar dan kami akan mengurusi masalah tersebut dengan serius."

Duta PBB, Nikki Haley mengatakan ini adalah waktu untuk menindak (Korea Utara) dengan aksi nyata, bukan hanya dengan kata-kata (peringatan). Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah dewan keamanaan melakukan pertemuan darurat pada hari Senin lalu, yang dilakukan oleh Amerika, Jepang, dan Korea Selatan terkait dengan peluncuran rudal Korut.

Seorang pejabat Korea Selatan menungkapkan, Amerika telah merencanakan untuk menyebarkan "aset strategis" pada latihan militer tahunan mendatang dengan negara ginseng itu, hal ini dikarenakan meningkatnya ancaman dari Korea Utara. Latihan tersebut dilaporkan akan dimulai pada bulan Maret. Sebelumnya AS pernah menaruh senjata B-2 Bomber, jet tempur siluman F-22 dan kapal selam bertenaga nuklir.

Agen intel Korea Selatan menyebutkan bahwa rudal yang diluncurkan kemarin memiliki jangkauan lebih dari 2000 km. Itu berarti akan menjangkau sebagian besar CIna, Taiwan, Jepang, Rusia bahkan sampai ujung Filipina. Korut sebelumnya juga pernah menguji coba rudal dengan jangkauan lebih dari 3000 km, dan telah berada di ambang untuk menguji rudal balistik antar benua yang tentunya dapat mengancam daratan Amerika Serikat, yang berjarak 9.000 km dari Korea Utara.

"Kami akan tetap mengawasi perkembangan rudal balistik antar benua Korea Utara tersebut," ujar Menteri Pertahanan Korea Selatan, Han Min-koo pada anggota parlemen pada hari Selasa. Trump pun memberikan respon singkat melalui akun twitternya, "it won`t happen!" setelah pemimpin tertinggi Korea Utara mengeluarkan statemen pada Januari lalu, bahwa Korut sudah siap menguji coba rudal balistik antar benuanya (ICBM).

Korea Utara dan Korea Selatan secara teknis masih berperang. Hal ini dikarenakan konflik yang berlangsung pada 1950-1953 berakhir dengan genjatan senjata, bukan perjanjian damai. Korut juga mengancam akan menghancurkan Korsel dan sekutu utamanya, Amerika Selatan.

Dewan Keamaan tidak menentukan langkah apa yang akan diambil , setelah sanksi PBB yang telah diberlakukan pada Korea Utara sejak tahun 2006 tentang pelarangan percobaan rudal dan nuklir. "Para anggota keamanan menyesalkan aktivitas peluncuran misil oleh Republik Demokrat Rakyat Korea Utara, termasuk yang terbaru ini," jelas dewan itu dalam sebuah pernyataan.

Pernyataan lainnya adalah menyerukan agar semua negara anggota untuk melipatgandakan upaya mereka untuk melaksanakan sepenuhnya langkah-langkah yang dikenakan oleh Dewan Keamanan pada Republik Demokratik Rakyat Korea.

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe juga mengatakan, bahwa ia berharap pemerintahan Trump akan menindak Korea Utara secara keras. "Saya yakin bahww sikap Amerika terhadap Korut akan menjadi jauh lebih keras," tegas Abe dalam Program berita NHK sesaat setelah ia kembali dari Amerika.

Negara Komunis yang dipimpim oleh Kim Jong Un tersebut menyatakan bahwa sanksi apapun terhadap percobaan rudal atau program nuklir negaranya, termasuk sebagai pelanggaran kedaulatan dan hak untuk membela diri.

KEYWORD :

PBB Amerika Korea Utara Nuklir Percobaan Misil




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :